ORIENTALISME

ORIENTALISME

By Prof. Dr. Datuk Shamsul Amri Baharudin

1.0 PENGENALAN ORIENTALISME

Orientalisme bermula dari dua kata asas yang digabungkan , iaitu oreint dan isme.  Oreint adalah bermaksud  Timur, atau negara-negara sebelah timur daripada  Meditteranie terutama  sebelah Asia Timur.  Sementara isme pula adalah suatu penambahan yang boleh membentuk satu kata nama  bagi membawa  maksud  sebarang doktrin  atau praktis  yang tertentu.  Sebagai contoh ia ditambah untuk  menunjukkan sesuatu  sistem atau prinsip (Conservatism), sebarang keadaan atau kualiti (Barbarisme , Heroisme) atau yang menunjukkan sesuatu kelainan , iaitu pemusatan sifat-sifat istimewa yang ada  pada seseorang individu atau  hak milik secara  ekslusif yang tidak ada pada yang lain (Americanism).

Menurut Said, Orientalisme mengutarakan tiga fenomena yang saling berkaitan. Pertama, Orientalis adalah orang yang mengajarkan, menulis  atau meneliti mengenai Timur. Hal ini berlaku samaada orang tersebut seorang antropologis, sosiologis, sejarawan atau ahli bahasa ‘. Dengan kata lain, sesiapa yang mengaku memiliki ilmu pengetahuan atau pemahaman tentang budaya oriental. Kedua, Orientalisme ialah perbezaan gaya pemikiran berdasar ontologis dan epistemologis yang dibuat antara Timur dan Barat. Ini adalah sebuah kategori yang akan mencakup pikiran dan tulisan-tulisan yang secara efektif membagi dunia dalam cara bipolar . Ketiga, dan mungkin yang paling signifikan sesuai dengan hujah Said:

Orientalism can be discussed and analyzed as the corporate institution for dealing with the Orient – dealing with it by making statements about it, authorizing views of it, describing it, by teaching it, settling it, ruling over it: in short, Orientalism as a Western style for dominating, restructuring and having authority over the Orient (Edward W. Said. 1991).

Bagi Said, ketiga elemen dalam persamaan Orientalis saling terkait, meskipun ia tidak pernah benar-benar menjelaskan sifat dari hubungan tersebut. Dengan demikian orientalisma menunjukkan pada keterlibatan akademis Barat dan agenda politik hegemoni imperialisme Barat. Hal seperti itu telah menjadi karya Said di bidang ini, dengan istilah “Orientalisme” yang setakat ini sering digunakan sebagai istilah yang menunjukkan kolonial, serta merendahkan dan memanipulasi Timur pada umumnya. Sehingga Edward W. Said, memberikan tiga  pengertian  yang  biasa diinterpritasi untuk Oreintalisme:

 

i-                    Pengertian  yang lebih  bersifat akademik . Sesiapa sahaja yang memberi pengajaran , menulis dan mengkaji mengenai Timur, tidak kira sama ada ia seorang ahli antropologi, sosiologi, ahli sejarah, filologi dan lain-lain  , maka ia digelar sebagai oreintalis dan hasilan  aktiviti mereka itu disebut Oreintalisme.

ii-                  Oreintalisme ialah suatu  stail  pemikiran yang diasaskan  kepada perbezaan-perbezaan ontologikal episitmologikal yang dilakukan  di antara oreint  dan Occident. Di sini didapati  sejumlah  besar  penulis –penulis , antaranya penyair , novelis, ahli falsafah, politik dan ekonomi  telah menerima perbezaan asas di antara Timur dan barat sebagai garis permulaan  untuk mereka  menghuraikan teori , epik, novel , sosial , politik, adat , matlamat dan minda orang-orang Timur.

iii-                Pengetian yang lebih bercorak sejarah dan material berbanding dengan kedua-dua  definisi yang awal di atas.  Dengan memandang suasana  akhir di abad ke 18 , Oreintalisme boleh dibincangkan dan dianalisis sebagai  institusi koporat yang berurusan  dengan Timur,sama ada dalam bentuk  membuat kenyataan terhadap Timur, mengulas, mengajar, menguasai dan mengawalnya. Atau dalam erti lain  ia adalah sesuatu stail Barat yang bertujuan untuk mendominasi, mengatur dan memilik kuasa ke atas Timur.

Kemudian orientalisme juga mempunyai hubungkait dengan imperialisme. Istilah imperialisme pertama kali dipakai di , kira-kira pada 1880. Mula-mula, kata tersebut berarti usaha untuk mengikat-eratkan hubungan daerah-daerah jajahan (koloni) dengan negeri induk (Baca: Inggeris). Ada hal yang menarik, mengutip pandangan Sukarno (1983) dalam bukunya Indonesia Menggugat, imperialisme kemudian berkembang menjadi usaha memperluas Kerajaan Inggeris dengan jalan menaklukkan atau merampas negeri bangsa lain. Oleh sebab itu, Sartono Kartodirdjo memandang imperialisme sinonim dengan kolonialisme.

Di tanah jajahannya, segala upaya politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan dilancarkan untuk mereguk sebesar-besar keuntungan. Penjajah mula-mula mengkaji berbagai persoalan seputar negara “sasaran”. Kajian serupa dikenal dengan orientalisme. Setelah memahami bangunan sosio-kultural negara sasaran, mereka merebut tampuk kekuasaan dengan serangan dan ekspedisi militer. Selanjutnya, sumber alam dan manusia yang ada mereka gunakan sampai ke tulang sumsum.

“Negeri jajahan,” ungkap Schrieke, “tak lebih dari gabus tempat mengapungkan penjajah agar tetap hidup dan tidak tenggelam.” Sementara semua itu berlangsung, penjajah melakukan penetrasi kultural melalui pendidikan, bahasa, dan pandangan hidup. Semua ini, bertujuan agar bangsa terjajah dapat tuned dengan cara dan gaya hidup penjajah. Atau mungkin, seperti setan, penjajah tidak mau masuk “neraka” sendirian.

Kegiatan penjajahan sebetulnya tidak terlepas dari realiti sosial bangsa penjajah Eropah kala itu. Sejak abad ke-16, ketika gerakan Renaisans mulai pada puncanya, tatanan sosial terjungkir balik. Dengan semangat kapitalisme, perdagangan dan industrialisasi yang semula berjalan lamban, meningkat secara mengejutkan. Benua Eropa seolah tidak lagi mampu menampung perniagaan yang meledak-ledak tersebut. Sehingga, timbul nafsu dan ambisi untuk menjajah ke benua-benua lain, terutama Benua Timur dan Asia (Sukarno. 1995).

Fakta menunjukkan bahawa penjajahan tidak lepas dari usaha mencari keuntungan (baca: kapitalisme). Penjajahan berganti-ganti warna serentak dengan pertumbuhan kapitalisme. Sejarah memperkenalkan pada beragam warna kolonialisme dan kapitalisme. Kolonialisme klasik tumbuh dalam sistem kapitalisme klasik, neo-kolonialisme tumbuh dalam sistem neo-kapitalisme, globalisasi tumbuh dalam sistem kapitalisme belas kasih (campassionate capitalism) dan demikian seterusnya. Singkatnya, kolonialisme adalah instrumen politik bagi negara-negara yang mempunyai “kapitalisme yang hebat,” kata Sukarno.

Contohnya, perpindahan sistem kolonial dari VOC (Verenigde Oostindische Compagnie)  ke Cultuurstelsel dan Politik Etis. Pada awal abad XX “ikatan” antara Nederland dan Hindia Belanda (Indonesia) semakin erat. Peralatan moden semakin mendekatkan jarak kedua negeri ini. Persyaratan kerja di Nederland pun semakin membaik dan gaji semakin tinggi. Demikian juga di Hindia Belanda. Kondisi-kondisi baru ini memaksa penjajah untuk juga menyiapkan kaum terpelajar Peribumi memasuki “zaman baru”.

Oleh  itu, garis politik baru cuba diterapkan oleh penjajah pada Peribumi. Garis politik ini disebut dengan ethische politiek yang berarti etika politik (Slamet Mulyono. 1968). Garis politik ini banyak dipengaruhi oleh ide Van Deventer melalui tulisannya yang berjudul Een Eereschuld yang artinya hutang budi.

Dalam usaha secara halus memperbesar keuntungan, ide-ide van Deventer itu kemudian dilaksanakan. Maka, pembangunan irigasi perkebunan tebu pun diperluas supaya dapat lebih produktif. Demikian pula pendidikan dan bengkel-bengkel digalakkan bagi para pegawai peribumi yang diperlukan tenaganya di kilang, tempat-tempat perniagaan, dan cawangan syarikat yang meningkat jumlahnya. Tenaga kerja dengan gaji yang murah hanya diperlukan di luar Jawa sebagai daerah yang segera dimodenisasi.

Usaha yang dimulai dengan penuh semangat itu, pada pertengahan kedua dasawarsa kedua mulai kabur dan ditinggalkan. Perkembangan politik sejak Kebangunan Nasional dan pecahnya Perang Dunia I menimbulkan situasi politik yang melemahkan tujuan seperti termaktub dalam etika politik (M.C. Ricklefs. 1991).

Realitinya, perkembangan material dan spiritual penduduk tidak pernah tampak. Keadaan sosial juga tidak banyak mengalami perubahan. Kemiskinan, buta huruf dan kurangnya kesihatan masih nyata dalam kehidupan rakyat pada amnya. Kesudahannya, menurut pandangan Stokvis, “Etika melulu didengungkan. Tapi, penjajah takut akan konsekuensi ekonominya (Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto. 1984). Sekadar contoh, berikut ini akan penulis jelaskan pengaruh kultural dari Politik Etis yang diterapkan penjajah saat itu.

Pendidikan gaya Barat yang gencar dilakukan pada era etika politik, menurut Takashi Shiraishi, pendidikan dengan mod barat berbanding terbalik dengan pendidikan dengan mod tradisional (Takashi Shiraishi 1997). Pendidikan gaya Barat tidak hanya sekular, tapi juga menyatu dengan tatanan kolonial yang berciri pembezaan yang bersifat perkauman dan linguistik, serta pemusatan kekuasan. Dalam pendidikan gaya Barat, semakin tinggi sekolah seseorang semakin dekat ia dengan pusat (kekuasaan) dunia kolonial. Dengan demikian, kesempatan untuk mendapat pekerjaan yang sesuai semakin terbuka. Di sisi lain, makin condong ke dalam dunia Belanda, maka makin “moden” dan makin “maju” dia dari cara hidup yang dijalani generasi pendahulunya. Sebaliknya, pendidikan tradisional pada dasarnya bersifat religius-etis.

Dalam buku Imagined Communities, Benedict Anderson (1983) menyebutkan bahawa dalam proses metamorfosis ini ada dua unsur yang fundamental. Pertama, pendidikan Barat menyediakan kunci bagi mobiliti sosial dalam sistem “rasialis” yang diciptakan dan dipertahankan oleh penjajah. Dengan demikian, bumiputra tetaplah bumiputra, betapapun tinggi pendidikannya. Tidak peduli Jawa, Sunda, Minangkabau, atau apa pun, semuanya tetap bumiputra. Kategori rasial-etnis bumiputra hanya bermakna dalam konteks dominasi kolonial, menjadi asas solidariti mereka yang mengenyam pendidikan gaya Barat ini. Tentunya, antara identiti pelajar yang terdidik ala Barat dan identiti bumiputra yang tidak dapat sepenuhnya menjadi Barat selalu terjadi benturan. Benturan yang menimbulkan krisis identiti yang hebat.

Kedua, pengalaman yang mereka perolehi dalam sekolah dan setelah lulus, jelas berbeza dengan generasi orang tua mereka. Ironisnya, pendidikan sekolah dan status sosial sebagai kelas menengah kota (yang menerima gaji), justru menjadi dasar ke arah perpaduan generasi ini. Mereka menyebut diri dengan istilah kaum muda, yang lebih moden dan maju ketimbang ibu bapa mereka dan orang-orang yang tidak berpendidikan gaya Barat.

Di antara kaum muda sendiri, mereka yang masuk sekolah rendah dan menengah Belanda lebih maju dari mereka yang mengikuti sekolah bumiputra. Kuncinya tak lain daripada kemampuan berbahasa Belanda dan akses mereka pada dunia Belanda. Ini kerana Belanda telah menjadi contoh ideal tentang kemajuan dan kemodenan. Dengan demikian, bahasa Belanda merupakan kunci untuk membuka dunia dan zaman moden.

Yang terpenting adalah, kaum muda adalah mereka yang suka menyisipi kata-kata Belanda dalam bahasa daerah, mengenakan pakaian dan kasut ala Belanda, mengunjungi restoran dan meminum lemonade, menonton film, menikmati muzik (selain gamelan) secara rutin dan seterusnya. Pada asasnya, kaum muda peribumi melakukan “hal-hal” seperti yang dilakukan orang-orang Belanda (Ben Anderson. 1983).

Usaha kolonialisme pada asasnya didahului oleh interpolasi dan ekstrapolasi budaya lokal. Teknikalnya, aktiviti serupa disebut dengan orientalisme. Mendengar kata orientalisme, pikiran kita mungkin langsung ingat pada kisah “penyusupan” Snouck Hurgronje untuk membekuk Aceh. Walaupun orientalisme sebetulnya tidak hanya itu. Orientalisme, lebih jauh, adalah segenap tindakan mempelajari sasaran penjajahan untuk merancang strategi serangan yang paling tepat. Aksi-aksi serupa itu telah berlangsung pada kurun waktu yang amat panjang. Contoh soal paling klasik ialah mitos Baron Sakender.

Bersamaan dengan tibanya orang Belanda di Indonesia, kerajaan Mataram sedang kukuh-kukuhnya berdiri. Legitimasinya didapat dari apa yang disebut para pujangga dengan mitos Senopati. Seperti diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, pendiri Mataram dianugerahi “kekuasaan keramat” di Gondang Lipura. Kepadanya, diwangsitkan bahawa dia akan menjadi pendiri suatu kerajaan yang gilang-gemilang.

Sementara kedatangan Belanda dapat mengancam kestabilan politik pada persekitaran setempat. Lebih buruk lagi, realiti “kekuatan baru Belanda” dapat menghakis legitimasi kekuasaan Mataram. Dalam usaha itulah, mitos Baron Sakender (BS) dinarasikan. Serat BS dapatlah dipandang sebagai alat untuk mendefinisikan kembali dunia simbolik mengenai kekuasaan Mataram. Dunia simbolik baru itu ialah bergabungnya Belanda sebagai realiti “kekuasaan alternatif”.

Menurut khabar, setelah turun dari tahtanya di Spanyol, Baron Sakender pergi merantau ke tanah asing dengan Sembrani (kuda bersayap) dan burung Garuda. Sampailah akhirnya ia di pulau Jawa. Dengan Sembraninya, BS terbang melayang-layang di atas daerah kekuasaan Mataram di Jawa. Syahdan, dia jatuh terhuyung. Konon, kerana Raja Mataram lebih kuat dan lebih sakti.

Yang menarik, sebagaimana diutarakan Sartono Kartodirdjo, mitos ini dapat digunakan untuk mengesahkan kehadiran penguasa asing di kerajaan-kerajaan Jawa. Lewat mitos ini, ditawarkan suatu situasi di mana nilai dan orang asing dapat diadaptasi oleh mental warga Jawa. Dengan mitos BS, keguncangan dan ketidakstabilan yang non-produktif dapat diatasi dan seluruh dunia simbolis-mistis-magis pulih kembali. Prinsip harmoni ditegakkan melalui “kewujudan bersama dalam damai” antara orang Jawa dan Belanda (Sartono Kartodirdjo. 1984).

Desakan budaya adalah strategi penjajahan yang paling mustajab, kerana ia langsung condong ke alam pikiran manusia dan mengatur kembali cara pandang manusia. Banyak contoh kes budaya penjajahan yang merambah  ke alam fikiran kita sampai ke dalam-dalamnya. Di zaman sekarang, dengan kemajuan teknologi maklumat media massa adalah senjata ampuh untuk melakukan penyusupan di bidang ini.

Sementara di lain hal sebuah konsekuensi dari konstruksi kebudayaan Barat, masyaraka yang muncul dari kebudayaan atau kumpulan mereka akan dianggap kumpulan lain, kerana dunia timur dianggap tidak berbudaya dan sengaja dikonstruksi untuk dijadikan tempat bermain oleh mereka. Orientalisma selain sebagai konstruksi sosial  dijadikan sebagai jarak pemisah, pembeza dan tempat bermain bagi kaum orientalis, juga bertujuan pada kekuasaan yang menyentuh pula seluruh aspek budaya dalam masyarakat. Kerana pada situasi tertentu melahirkan adanya dominasi pandangan Barat dalam masyarakat Timur, yang menjadi sumber lahirnya ketidakadilan hubungan kerana adanya keinginan untuk menjadi kuasa di atas budaya masyarakat Timur. Dari sini lahirlah aliran berpikir tentang adanya dominasi Barat terhadap dunia Timur melalui cara yang tidak sihat. Timur adalah suatu bahagian integral dari perabadan dan kebudayaan material Eropah. Orientalisme mengungkapkan dan menampilkan bahagian tersebut secara budaya dan bahkan bahasa, bidang kesarjanaan, lambang-lambang dan doktrin-doktrin yang mendukungnya bahkan birokrasi- birokrasi kolonial dan gaya- gaya kolonialisme (Said, 2001 : 2).

Hal ini dirasakan juga oleh masyarakat Indonesia pada zaman kolonial. Untuk membendung lahirnya karya- karya tulis bangsa Indonesia yang dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas kolonial, pemerintah Belanda mendirikan Balai Pustaka (Dewan Bahasa dan Pustaka). Melalui nota rinkes bentuk dan gaya sastera Indonesia diarahkan. Karya yang tidak sesuai aturan kolonial atau berbeza sebelumnya dengan karya- karya yang tidak diakui oleh para pembaca Belanda akan tidak diakui dan tidak diterbitkan. Dan hasilnya menunjukkan dominasi pandangan ideologi tersebut kemudian para penulis yang tidak masuk di dalam Balai Pustaka dianggap sebagai the other (orang lain) dan layak untuk dicurigai sebagai pembangkang yang melawan sistem ideologi yang dibangun oleh bangsa penjajah. Salah satu metod dalam penerapan sistem ideologi tersebut adalah bahasa yang digunakan dalam setiap cerita harus menggunakan bahasa Melayu Tinggi. Demikian pula terhadap tajuk cerita, yang tidak sesuai dengan cita- cita bangsa penjajah harus diperiksa dahulu atau diubahsuai terlebih dahulu sebelum diterbitkan. Akhirnya, karya- karya yang tidak sesuai dengan konsep ideologi kaum orientalis kemudian diterbitkan oleh penerbit lain. Justeru, dari sinilah lahir beberapa karya sastera sebagai bentuk dialek yang harus di terima oleh masyarakat.

Akhirnya kita tidak perlu prejudis pada setiap orientalis yang dalam sejarahnya mungkin berhubungan dengan perjalanan kapitalisme dan kepentingan Barat yang mempunyai hubungan rapat dengan negara dunia ketiga seperti Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang benar- benar mengabdikan dirinya untuk ilmu pengetahuan dan bersikap sangat objektif. Namun ada baiknya juga kita untuk memulai pengetahuan yang bersikap  objektif. Namun ada baiknya juga kita mulai melakukan oleh apa yang dianjurkan Edward Said untuk : menulis tentang mereka, suatu khasanah konsep fikir barat yang berbeza daripada tradisi ketimuran, itu dikenal dengan Oksidentalisme sebagai lawan daripada Orientalisme.

Pada bahagian berikutnya akan dijelaskan mengenai Oksidentalisme dan teori sosial yang ada di luar Barat iaitu Islam dan Amerika Latin yang merupakan usaha daripada kumpulan daripada teoris selain barat untuk memberikan pandangan-pandangan mereka mengenai apa yang telah berlaku di dunia pada masa mereka hidup.

2.0 TEORI SOSIAL DI LUAR BARAT

2.1 TEORI OKSIDENTALISME

Istilah oksidentalisme dipopularkan oleh Dr. Hasan Hanafi seorang pemikir dari Mesir dan juga penulis al Yasar al Islam – Islam kiri.  Oksidentalisme adalah berlawanan (antonim) dari istilah oreantalisme yang dalam pengertian umum, orientalisme adalah suatu kajian komprehensif dengan meneliti dan merangkumi semua aspek kehidupan masyarakat Timur. Yang disebut Timur meliputi kawasan yang luas, termasuk Timur Jauh (negara-negara Asia yang jauh dari Eropa, seperti Jepun dan Cina), Timur Dekat  (negara-negara  Asia   yang   dekat   dengan    Benua   Eropah,  seperti  Turki),  dan  Timur  Tengah (negara-negara Asia yang terletak di antara keduanya, seperti negara-negara Arab) (Azrin Mohamad 2007).

Oksiden bermakna “dunia belahan barat”, dan secara etnologis bermakna “bangsa-bangsa di barat”. Daripada kata akar itu, telah berkembang satu istilah dalam kajian pascakolonial, iaitu oksidentalisme, iaitu suatu wacana yang memperihalkan dunia Barat. Oksidentalisme juga disebut dengan berbagai-bagai nama, contohnya westernism, orientalisme in reverse (orientalisme terbalik), dan europhology (ilmu tentang Eropah). Hassan Hanafi memperincikan gagasan oksidentalisme sebagai satu anjuran pegangan untuk umat Islam, atau negara Islam bagi mendepani hegemoni Barat dalam konteks budaya, politik, dan kenegaraan (Hassan Hanafi, 1993). Hassan Hanafi menghuraikan permasalahan dikotomi antara Barat dengan Timur dan konsep oksidentalisme melalui pendekatan historikal dan teoritikal (Mohamad Saleeh Rahamad 2007: 171-202).

Menurut Hassan Hanafi, tugas oksidentalisme ialah menghuraikan sejarah hubungan non-Eropah dengan Eropah, menjatuhkan keagungan Eropah dengan menjadikannya sebagai objek yang dikaji, dan menghapuskan perasaan rendah diri non-Eropah (Timur) dengan menjadikannya sebagai subjek pengkaji. Dengan kata lain, oksidentalisme menghilangkan rasa tidak percaya diri atau inferiority complex di hadapan Barat dalam soal kebudayaan, bahasa, ilmu pengetahuan, teori, mazhab, dan pendapat, dan selanjutnya menimbulkan rasa tinggi diri (megah pada diri sendiri) atau superiority complex . Secara khayalan  rasa rendah diri berubah menjadi lebih berkuasa, seperti yang berlaku di Iran tatkala rejim Shah yang disokong oleh Barat ditamatkan oleh Ayatollah Khomeini yang membawa tradisi Islam fundamental. Rasa super (kehebatan diri) yang muncul secara bersifat khalayan itu bertitik tolak daripada reaksi terhadap superioriti kebudayaan Barat yang berkecenderungan  bersikap perkauman yang dinyatakan dengan jelas mahupun tersirat.

Bagi Hassan Hanafi, oksidentalisme ialah wajah lain bahkan berlawanan dengan Orientalisme tetapi bukanlah bertentangan secara keseluruhannya dengan Orientalisme. Oksidentalisme sebenarnya tidak bertujuan melakukan pembalikan secara total kepada Orientalisme. Orientalisme bersifat tidak neutral dan berfungsi sebagai alat imperialisme, mengekalkan kuasa hegemoni walaupun selepas berlalunya era penjajahan politik dan ketenteraan, manakala oksidentalisme hanya bertujuan membebaskan diri daripada pengaruh pihak lain supaya wujud kesetaraan antara al-ana (dunia Islam dan Timur) dengan al-akhar (dunia Eropah dan Barat) (Hassan Hanafi, 1999: xvii & xix).

Dalam konteks kembali kepada realiti semasa, Hassan Hanafi menyenaraikan cabaran yang berikut (Hassan Hanafi, 1999: 21):

i.                    membebaskan tanah air atau watan daripada serangan luaran kolonialisme dan  Zionisme;

ii.                   kebebasan universal melawan dominasi, penindasan, dan kediktatoran dari dalam;

iii.                 keadilan sosial menghadapi jurang perbezaan yang lebar antara golongan kaya dengan golongan miskin;

iv.                 persatuan mendepani perpecahan dan diaspora;

v.                   pertumbuhan melawan kemunduran politik, sosial, ekonomi, dan budaya;

vi.                 identiti diri menghadapi pembaratan (westernisasi) dan kepengikutan; dan

vii.               mobilisasi kekuatan massa melawan apatisme (sikap tidak peduli).

 

Hassan Hanafi menegaskan bahawa Barat tidak lagi perlu dikagumi, kerana selagi Barat masih menjadi sumber pengetahuan dan rujukan dalam melakukan penilaian atau penghakiman dan pemahaman, umat Islam tetap akan menjadi golongan bawahan yang memerlukan pelindung. Sebagai projek untuk mengembalikan kegemilangan dan keagungan Islam, Hassan Hanafi mencadangkan satu revolusi moden; membebaskan umat Islam daripada kesalahan; menyempurnakan kemerdekaan; serta beralih daripada kemerdekaan ketenteraan kepada kemerdekaan politik, ekonomi, kebudayaan, dan peradaban.

Oksidentalisme merupakan arah kajian baru dalam menghadapi hegemoni keilmuan barat. Istilah yang diperkenalkan oleh Hassan Hanafi ini berusaha mengkaji barat dalam kacamata timur, sehingga ada keseimbangan dalam proses pembelajaran antara utara dan selatan. Selama ini, barat dipandang sangat mendominasi dalam kajian ketimuran, khususnya kajian ke-Islaman. Bahkan, di era kolonial, orientalisme dianggap sebagai senjata untuk menundukan bangsa-bangsa timur. Hal inilah yang membangkitkan kekesalan Edward Said dengan menulis buku “orientalism” yang terkenal itu. Dia mengkritik bahawa kajian barat atas timur adalah bertujuan keilmuan (Andrea Xia 2007).

Setelah memberikan pengertian Oreantalisme, kita dapat membuat kesimpulan bahawa pengertian secara umum oksidentalisme adalah kajian tentang kebaratan atau suatu kajian  komprehensif dengan meneliti dan merangkumi semua aspek kehidupan masyarakat Barat. Dalam oksidentalisme, posisi subjek objek menjadi terbalik. Timur sebagai subjek pengkaji dan Barat sebagai objek kajian. Walaupun istilah oksidentalisme adalah antonim dari Oreantalisme, tapi di sini ada perbezaan lain, oksidentalisme tidak memiliki tujuan hegemoni dan dominasi sebagaimana orientalisme. Tetapi, para oksidentalis hanya ingin merebut kembali ego Timur
telah dibentuk dan direbut Barat (Herisuwanto 2009)

Menurut Hassan Hanafi, sebuah kajian Oksidentalisme seharusnya:

1.      Tidak mempelajari tradisi Barat untuk memindahkan ilmu pengetahuan, tetapi   mengambil sikap terhadap ilmu pengetahuan yang eksak sekalipun. Dengan demikian menganggap Barat sebagai ilmu perantara (ulum al-wasa’il), bukan ilmu tujuan. Tradisi Barat hanyalah bahagian dari kebudayaan yang dapat digunakan sebagai salah satu bentuk pengungkapan. Semacam perwujudan “formasi palsu” terhadap tradisi Barat.

2. Mempelajari tradisi Barat sebagai bahagian dari analisa terhadap realiti kontemporari Timur dengan andaian tradisi Barat telah menjadi salah satu yang menyanggah kebudayaan kontemporari Timur.

3. Mengkaji tradisi Barat sebagai bahagian dari kajian tentang tradisi lama Timur sebab pemikiran kontemporari Timur sejak lebih dari seratus tahun lalu menjadi titik pertemuan antara dua peradaban, yaktu tradisi lama Timur yang direkonstruksi dan tradisi Barat yang merupakan kelanjutan tradisi Yunani kuno yang juga bahagian dari kajian pemikiran Islam lama.

4. Mempelajari tradisi Barat sebagai bahagian partisipasi dalam kajian kemanusiaan umum. Hal ini dimaksudkan untuk membantu Barat dalam memahami tradisi mereka sebagaimana yang mereka lakukan dalam Orientaslime.

2.1.1 Latar Belakang dan Sejarah Munculnya Oksidentalisme

Berbicara tentang latar belakang dan sejarah munculnya oksidentalisme kita tidak dapat lari daripada melihat sejarah kecemerlangan peradaban Islam dan masa kegelapan peradaban dunia barat. Sejarah telah mencatatkan era kecemerlangan dunia timur khususnya peradaban Islam, bahkan peradaban keilmuan barat terhutang budi dengan peradaban keilmuan Islam. Dan ini tidak bisa dipungkiri lagi, kita ingat masa-masa kegelapan dunia barat sebelum masa kebangkitan, doktrin gereja sangat mendominasi dan mengekang kebebasan mereka dalam bertindak bahkan dalam berpikir, semuanya harus sejalan dengan ajaran gereja yang menjadikan bangsa barat terbelakang dari peradaban lainya.

Peradaban Islam waktu itu sangat bertolak belakang dengan peradaban barat, peradaban Islam sangat mencolok dan maju pesat bak anak panah, universalnya Islam telah mengubah bangsa timur dari bangsa yang terbelakang dan primitif menjadi bangsa yang maju baik dari segi agama, pemerintahan-politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan. Keadaan ini membuat para pemikir dan cendikiawan barat (juga disebut oreantalis masa awal) yang sudah bosan dengan doktrin gereja yang kadang tidak sesuai dengan nalar telah terinspirasi serta melirik peradaban Islam dan mempelajarinya, mereka hijrah ke wilayah kekuasaan Islam dan belajar dari ilmuan-ilmuan Islam, maka lambat laun setidaknya dalam beberapa period telah merubah wajah barat dari belenggu kegelapan.

Ketika bangsa Barat mulai bangkit dari kemunduran mereka (renaissance), setelah belajar dari dunia timur khususnya peradaban Islam, dunia Islam mulai merudum, sedikit demi sedikit dan terus mundur disebabkan pemimpin-pemimpin Islam yang lemah, setelah peradaban Islam dimusnahkan oleh pasukan Tartar (bangsa Mongol). Maka barat semakin menunjukkan jayanya dan terus berkembang hingga abad ini. Dari sini muncul tokoh-tokoh oreantalis (pengkaji peradaban ketimuran) yang dengan seiring perjalanan waktu telah berubah menjadi suatu kajian yang bukan hanya mempelajari keilmuan peradaban timur tapi semua yang terkait dengan ketimuran termasuk bagaimana cara menguasai dunia timur (Islam) dan penjajahan.

Dalam sejumlah karya orientalis, yang lebih banyak ditonjolkan ialah unggulnya orang-orang Barat serta mengerdilnya segala yang terkait dengan Timur khususnya Islam. Mereka senantiasa mengemukakan orang-orang Timur tidak berbudaya, bodoh, keras, kasar, dan tidak punya potensi, untuk membuktikan ini para oreantalis telah mendistorsi sejarah dan mengagungkan kemajuan peradaban mereka serta menghilangkan jejak bahawa mereka pernah belajar dari Timur (Islam). Misalnya mereka (oreantalis) telah membaratkan nama beberapa orang  tokoh ilmuan Islam seperti Ibnu Sina menjadi Avecina, Ibnu Rusd menjadi Averos dan sebagainya.  Atas dasar itu, muncul kesadaran baru di dunia Timur (pemikir dan pembaharu Islam) bahawa selama ini mereka dibodohi kajian-kajian ketimuran (orientalisme) itu. Lahirlah apa yang disebut kajian kebaratan atau yang dikenal dengan istilah oksidentalisme. Menurut hemat penulis kajian ini adalah upaya untuk menandingi oreantalisme dan merebut kembali ego Timur yang telah direbut oleh Barat.

2.1.2 Tokoh-tokoh Oksidentalisme

Dalam kajian ini penulis akan sebutkan beberapa tokoh oksidentalisme yang kebanyakan daripada  mereka adalah pemikir dan tokoh pembaharu Islam:

2.1.2.1. Jamaluddin al-Afghani

Jamaluddin Al-Afghani adalah pahlawan besar dan salah seorang putra terbaik Islam. Kebesaran dan kiprahnya membahana hingga ke seluruh penjuru dunia.  Usaha-usahanya dalam menggerakkan kesadaran umat Islam dan gerakan revolusionernya yang membangkitkan dunia Islam, menjadikan dirinya orang yang paling dicari oleh pemerintahan kolonial ketika itu, . Tapi, komitmen dan konsistennya yang sangat tinggi terhadap nasib umat Islam, membuat Al-Afghani tak pernah kenal lelah apalagi menyerah.

2.1.2.2. Sheikh Muhammad Rasyid Ridha

Muhammad Rasyid Ridha, lahir di Qalmun, sebuah desa sekitar 4 km dari Tripoli, Libanon pada 27 Jumadil Awal 1282 H.; Beliau adalah bangsawan Arab yang memiliki garis keturunan langsung dari Sayyidina Husen, putera Ali bin Abu Thalib dan Fatimah puteri Rasulullah Saw.

2.1.2.3. Dr. Muhammad Imarah

Muhammad Imarah atau Amarah lahir di Desa Sharwah-Qalain Propinsi Kafr Al-Syaikh Mesir, seorang intelektual kelas kakap di Tanah Arab. Responnya yang cukup antusias pada dunia akademis, terutama dalam menyikapi tren pemikiran Islam, telah mengibarkan namanya dalam dunia pendidikan dan pemikiran Islam kontemporer.

2.1.2.4. Dr. Hasan Hanafi

Dilahirkan di Cairo, Mesir pada 14 Februari 1934 M. Hasan Hanafi, pemikir muslim modenis dari Mesir, adalah salah satu tokoh yang akrab dengan simbol-simbol pembaruan dan revolusioner, seperti Islam kiri, oksidentalisme, Tema-tema tersebut kemas dalam rangkaian projek besar; pembaruan pemikiran Islam, dan upaya membangkitkan umat dari ketertinggalan dan kolonialisme moden.

2.1.2.5. Nurcholish Madjid.M.A

Lahir di Jombang, 17 Maret 1939 (26 Muharram 1358), dari keluarga kalangan pesantren. Pendidikan yang ditempuh: Sekolah Rakyat di Mojoanyar dan Bareng (pagi) dan Madrasah Ibtidaiyah di Mojoanyar (sore); Pesantren Darul ‘Ulum di Rejoso, Jombang; KMI (Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah) Pesantren Darus Salam di Gontor, Ponorogo; IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta (Sarjana Sastra Arab, 1968), dan Universitas Chicago, Illinois, AS (Ph.D., Islamic Thought, 1984).

Orientalisme-Oksidentalisme oleh Nurcholish Madjid

Pembicaraan tentang orientalisme dan oksidentalisme akan sulit terhindar dari suasana perdebatan . Orientalisme sebagai suatu disiplin telah muncul di kalangan orang Barat (orang oksidental), sedangkan oksidentalisme baru muncul hanya belakangan ini saja di kalangan orang Timur (orang oriental). Almarhum Prof. Harun Nasution menggagasi kajian budaya Barat di IAIN Jakarta, dan Hassan Hanafi dari Mesir menulis buku komprehensif tentang kajian Timur.

Secara perkamusan, orientalisme diterangkan sebagai “Scholarly knowledge of eastern cultures, languages, and people” (Pengetahuan akademis tentang budaya, bahasa dan bangsa-bangsa Timur). Sebaliknya, oksidentalisme sebagai disiplin ilmu harus diartikan tidak lain sebagai “pengetahuan akademik tentang budaya, bahasa dan bangsa-bangsa Barat.” Kerana asumsinya yang mahu melakukan kajian oksidentalisme ialah “orang Timur,” maka dapat diduga bahawa disiplin itu belum tumbuh dan berkembang dengan kukuh, dan baru dalam tahap permulaan, jika bukan hanya sekadar gagasan.

Keadaan yang belum banyak menjanjikan itu berasal dari masih lemahnya tradisi keilmuan bangsa-bangsa Timur, nisbi jauh di belakang bangsa-bangsa Barat. Tetapi dengan contoh rintisan Hasan Hanafi lewat bukunya Oksidentalisme, kini mulai dirasakan perlunya penggagasan oksidentalisme secara lebih bersungguh-sungguh. Jika diperhatikan sedikit lebih mendalam, dorongan melakukan kajian budaya Barat itu ada dalam dua arah: pertama, untuk memahami secara kritis budaya Barat itu sendiri, dan kedua, untuk membantu menghilangkan situasi saling salah faham antara Barat dan Timur. Yang terakhir itu penting sekali, mengingatkan bahawa situasi saling salah faham itu sudah lama terjadi, lebih-lebih dengan adanya “orientalisme” yang telah tumbuh dan berkembang ratusan tahun, dengan puncaknya berupa tesis Huntington tentang perbentukan peradaban (clash of civilization).

Persoalan pertama berkenaan dengan orientalisme dan oksidentalisme ialah istilah dan pengertian “orient” dan “oksiden” itu sendiri: “Barat” dan “Timur” sesungguhnya tidak mempunyai realita objektif, kecuali jika dibatasi sebagai cara pengenalan arah angin yang nisbi (sebab sesuatu ada di barat atau di timur, dengan sendirinya, tergantung kepada kedudukan orang yang memandangnya). Dan dalam bahasa arab, kata-kata “syarq” untuk “timur” semata berarti “terbit”, dan kata-kata “gharb” untuk “barat” berarti terbenam. Karena itu untuk “timur” juga digunakan kata-kata “masyriq” (tempat terbit [matahari]), dan untuk “barat” digunakan kata-kata “maghrib” (tempat terbenam [matahari]), halmana semuanya adalah nisbi belaka, tidak mutlak.

Lebih-lebih pada masa ketika sudah diperoleh kemantapan pengetahuan bahawa bumi itu bulat (dan konon alam semesta juga bulat), maka arah angin pada hakikatnya menjadi mustahil. Cukup menarik bahawa hal itu telah ditegaskan oleh al-Razi, seorang penafsir klasik al-Qur’an, atas ayat Q. 24: 35″…sebab yang berpendapat bahawa bumi bulat tidak memandang adanya timur dan barat pada dua tempat tertentu; sebaliknya, setiap negeri mempunyai timur dan baratnya sendiri.”

Dalam istilah “orientalisme” dan “oksidentalisme” terkandung pengertian “timur” dan “barat” sebagai konsep geo-kultural dan geo-politik. Jika kita amati sejarah berbagai bangsa, atau bahkan pandangan kultural dan politik mereka sampai sekarang, kita akan temukan jenis-jenis konsep geo-kultural dan geo-politik yang sepadan dengan kelaziman kontemporer di Eropa dan Amerika (mungkin juga masih ada pada orang-orang Australia dan Selandia baru) untuk mengenali diri mereka sebagai “Barat” dan lainnya “Timur”. Orang Jawa, misalnya, membahagi manusia, khususnya di Asia Tenggara ini, menjadi “Jawa” dan “Sabrang,” dengan konotasinya sendiri. Orang Cina terkenal sekali dengan pandangan mereka tentang “Negeri Tengah” (Tiongkok) dan “Orang Tengah” (Tionghoa) dengan klaim kuat atas sentraliti negeri dan bangsa mereka, sementara orang lain, dengan sendirinya, bagi mereka adalah “orang pinggiran” atau “periferal,” juga dengan segala konotasinya.

Orang Arab, khususnya penduduk Makkah pada masa sebelum Islam, mempunyai konsep geo-kultural yang sedikit-banyak sepadan dengan yang lain. Mereka dahulu, seperti banyak bangsa-bangsa Timur-Tengah, menganut keagamaan pemujaan (dewa) Matahari, yang disebut Syamas. Mereka menyembahnya saat “dewa” itu menampakkan diri, yaitu saat matahari itu terbit di timur. Dalam posisi itu serta-merta mereka melihat diri mereka ada di pusat jagad, dengan negeri-negeri di sebelah kiri dan kanan mereka, yang masing-masing di sebelah utara dan selatan. Mereka sebut negeri sebelah utara itu “Syam” (Kiri), meliputi seluruh wilayah Syiria, dan yang sebelah selatan “Yaman” (Kanan), meliputi seluruh wilayah Jazirah Arabia sebelah selatan. Dengan sendirinya kota Makkah, yang juga disebut sebagai Umm-u’l-Qura (ibu negeri, metropolis) adalah pusat semuanya itu. Pandangan geo-kultural orang Arab Makkah itu bertahan sampai sekarang, dan nama-nama negeri Syam dan Yaman juga bertahan tanpa rasa keberatan.

Pandangan geo-kultural Arab Makkah itu, sebagaimana telah diisyaratkan, adalah bahagian dari gejala umum kultus matahari sebagai “Sol Invictus” (Matahari yang tak terkalahkan). Sisa kultus itu ialah pandangan hari pekan pertama sebagai “Hari Matahari” (Sunday), yang berarti juga “Hari Tuhan” (Do Minggos). Sisa lain ialah kata-kata “orientasi” yang berarti “mencari arah,” dalam hal ini mencari arah timur, arah matahari terbit.

Kaum Yahudi mungkin tidak menganut suatu faham geo-kultural, karena mereka tidak pernah berkuasa atas suatu negeri dan menguasai suatu wilayah geografis secara berarti dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi mereka menganut faham kultural-keagamaan yang sangat dikotomis, yang membagi umat manusia atas diri mereka sendiri sebagai “bangsa pengemban perjanjian (dengan Tuhan)” (B’nai B’rith – “The Children of the Covenant”), sedangkan semua manusia lain adalah “gentile,” tidak saja dalam arti “bangsa” seperti makna menurut aslinya dalam bahasa Ibrani, tapi juga dalam isyaratnya yang bernada merendahkan bangsa-bangsa selain bangsa Yahudi. Mereka di masa Israel kuna memandang semua orang lain secara moral jahat dan kotor. Kaum Mormon mengoper pandangan itu untuk menyebut selain mereka sendiri sebagai gentile. Dan sungguh menarik bahawa sebahagian kaum Muslim India menyebut orang lain juga sebagai gentile (lihat, Encyclopedia Americana, CD Rom 1999, s.v. “Gentile”).

Umat Islam memang juga mempunyai pandangan geo-kultural dan geo-politik yang kurang-lebih sebanding. Pertama-tama ialah pembahagian manusia secara garis besar menjadi kaum “mu’min” (mereka yang percaya kepada kebenaran, khususnya kebenaran Ilahi), dan kaum “kafir” (mereka yang menolak kebenaran). Jika kedua istilah itu masih berada dalam lingkup pandangan keagamaan, maka istilah-istilah “Dar-u ‘l-Islam” (Negeri Islam) atau “Dar-u ‘l-Salam” (baca: “Darussalam” -“Negeri Damai” ) berhadapan dengan “Dar-u’l-Harb” (“Negeri Perang”) jelas merupakan pandangan geo-kultural dan geo-politik. Pandangan itu muncul dengan kuat saat-saat kejayaan Islam di bidang politik dan militer, tidak lama setelah wafat Nabi s.a.w.

Selanjutnya, umat manusia baru saja terbebaskan dari tatanan dunia yang secara geo-politik dibagi menjadi dua secara amat mengancam, yaitu “Dunia Bebas” dan “Dunia Komunis.” Memang ada usaha untuk meneutralkan pandangan geo-kultural yang mengancam itu, dengan diperkenalkannya pengertian “Dunia Ketiga,” bersama dengan “Dunia Pertama” (“Dunia Bebas”) dan “Dunia Kedua” (“Dunia Komunis”). Usaha yang dipelopori Indonesia itu berpengaruh besar sekali pada suasa geo-politik global, namun konsep dikotomis “Dunia bebas” dan “Dunia Komunis” tetap sangat dominan, sampai runtuhnya “Dunia Komunis”.

2.1.2.6. Adrian Husaini, M.A

Lahir Bojonegoro, 17 Desember 1965 adalah ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, sekretaris jenderal Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama Indonesia (KISP-MUI), Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan anggota pengurus Majlis Tabligh Muhammadiyah.

2.1.3 Kritikan Terhadap Oksidentalisme

Ahmad Syaikh dalam bukunya, “Min al-Istisyraq ila al-istighrab (Dari Orientalisme Menuju Oksidentalisme)” yang menyimpulkan bahawa Orientalisme mahupun Oksidentalisme sesungguhnya merupakan disiplin kajian yang kering dan bertepuk sebelah tangan. Contohnya: tatkala muncul Orientalisme, orang-orang Islam pada umumnya tidak memberikan respon yang bersifat akademik dan dialogis. Orientalisme tidak direspon dengan Oksidentalisme.

Kerana itu, apa yang terjadi kebelakangan ini adalah kenyataan terburuk yang pernah dihadapi oleh kajian Oksidentalisme. Oksidentalisme kini bahkan tidak lagi sebagaimana yang pernah menjadi gagasan Hassan Hanafi, yakni sebagai sebuah jalan tengah dalam mengatasi hegemoni media pengetahuan Barat; namun ia telah menjelma sebagai kajian terhadap Barat yang bersifat parsial, bahkan politis. Anti-Barat lebih digunakan sebagai komoditas politik daripada sebagai sebuah disiplin keilmuan untuk membangun peradaban kemanusiaan yang luhur. Maka, reaksi yang muncul pun cenderung bersifat hitam-putih.

Padahal Oksidentalisme bagi Hanafi sesungguhnya bukanlah lawan dari Orientalisme, melainkan sebuah hubungan dialektis yang saling mengisi dan melakukan kritik antara satu terhadap yang lain sehingga terhindar dari relasi hegemonik dan dominatif Barat atas Timur. Ia—seperti yang ditegaskan Hanafi lagi—bukanlah alat imperialisme dan tidak berambisi kepada dominasi kursif dan hak kontrol atas “the other” (yang di Indonesia kata ini dipopulerkan Goenawan Mohamad dengan padanan “liyan”). Sebab Hanafi tidak bermaksud melakukan pembalikan total dalam pengertian menggantikan posisi yang pernah dimainkan oleh Orientalisme.

Maka agar Oksidentalisme tak semakin terperangkap menjadi sebuah studi kajian yang terkesan membalas dendam (terhadap Orientalisme), di sinilah dibutuhkan sebuah sikap Oksidentalistik yang konstruktif. Yaitu, memandang Barat secara moderat dan rasional tanpa menumpulkan sikap kritis. Sikap Oksidentalistik semacam ini pernah digagas oleh Ibnu Rush dalam kitabnya, “Fashl al-Maqal fi Taqrir ma bayn al-Syariah wa al-Hikmah min al-Ittishal”, bahawa kebenaran yang datang dari mereka yang berbeda keyakinan (baca: Barat) harus diterima. Sebaliknya, bila mereka membawa kekeliruan/ kesalahan, haruslah dimaafkan dan diperbaiki. Ini kerana hanya dengan sikap seperti inilah kesan bahawa Oksidentalisme sekadar reaksi belaka atas kezaliman Orientalisme yang tercipta sejak kelahirannya tidak menjadi semakin berkembang.

Sebagai sebuah disiplin keilmuan baru yang bangunan epistemologinya belum kukuh (sehingga terkesan kuat terjadinya overlapping dengan disiplin keilmuan lain), sesungguhnya Oksidentalisme terlalu rapuh memikul tujuan dan tanggungjawab keilmuannya sendiri. Karena keinginan Hanafi agar umat Islam memiliki kesadaran untuk memandang Barat sebagai obyek kajian baru, sekaligus mengajari Barat bahawa Timur bisa menunjukkan Barat kepada relnya—di sini bagaimanapun rasa-rasanya telah tergelincir menjadi sebuah keangkuhan baru; yang alih-alih mengembangkan sebuah disiplin ilmu netral, justru memperkenalkan Orientalisme dalam bentuknya yang baru.

Bila demikian, yang terjadi kemudian hanyalah apa yang dicemaskan Hanafi sejak semula, iaitu sebagai pengguna barang-barang, Timur (Islam) semakin terperangkap dalam ilusi bahawa ia dapat menyusul pengeluar barang-barang (Barat) dan memperkecil jarak. Yang pada gilirannya kesulitan  mengejar para pengeluar sehingga mengalami goncangan peradaban dan akhirnya menerima nasib sejarah sebagai ekstrimisme bagi sentrisme Barat. Mungkin benar, banyak kreativiti Timur yang belum digali sebagai refleksi kemajuan atau kemunduran Timur. Tetapi, apakah Timur memang sungguh-sungguh mampu membaca dan merefleksi pemikiran serta menguasai dasar yang ada dalam dirinya kemudian mengaplikasikan gagasan tanpa campur tangan pemikiran yang lain (“the order of think”), sangatlah perlu untuk diragukan secara kritis mengingat inferioritas yang terlampau lama menjangkitinya.

Karenanya, harapan dan agenda Hanafi agar Timur (Islam) dapat mengangkat pengetahuannya sendiri dan mengeksplorasikannya keluar dunia Barat sehingga seluruh dunia tak memiliki batas geografi dan antropologi pengetahuan, sampai saat ini memang masihlah menjadi sebuah tanda tanya besar. Adalah realitas di Timur, seperti yang diakui oleh Hanafi, banyak muncul karangan tetapi hanya sedikit yang menghasilkan ilmu. Hal ini menurut Hanafi dikarenakan kita masih terus saja mengutip dari Barat sejak kebangkitan moden karena angka produksi Barat yang lebih besar dibanding angka transferensi kita. Padahal ilmu pengetahuan bukanlah aksi mengumpulkan pengetahuan. Seharusnya yang kita lakukan adalah membacanya; menciptakan ilmu baru darinya; mengetahui proses kelahirannya; atau menciptakan teori dari suatu realitas agar membuahkan ilmu baru yang melengkapi ilmu lain—dengan mengkaji obyek, membuat redaksi, mengkritik pengetahuan yang dikutip, setelah dikembalikan kepada “akal” dan realitasnya untuk disempurnakan dan  diakurasikan.

Ketidakmampuan Timur memenuhi tuntutan realitasnya untuk mengembalikan pemikiran madzhab Barat ke realitas ini pun akhirnya menjadi kelemahan dunia Timur: di satu sisi dalam memandang transferensi dari Barat secara berkepanjangan hingga melewati batas kewajaran—yang karena itu menghambat lahirnya inovasi; tetapi di sisi lain juga gagal mempertegas pengetahuan dalam rangka membebaskan diri dari sekadar alat tranformasi.

Dalam hal inilah agaknya perlu dicurigai: jangan-jangan keluhan akan sikap sok tahu Barat adalah kata lain untuk kurangnya pengetahuan kita tentang diri kita sendiri, jangan-jangan keluhan tentang sifat menggurui Barat adalah pengakuan terselubung tentang rendahnya explanatory power hasil kerja intelektual kita, dan jangan-jangan pula keluhan tentang kurangnya empati Barat adalah isyarat etnosentrisme kita sendiri.

Hassan Hanafi sendiri mengakui Barat adalah pendatang utama dan juga sumber pengetahuan ilmiah dalam kesadaran kita. Tetapi, dalam posisinya yang “vis a vis” dengan Timur yang tidak sebanding ini, bukanlah penolakan secara pasif keseluruhan sebagai bahagian dari pembelaan diri dan penjagaan identitas yang dikehendakinya dari dunia Timur, melainkan bagaimana kita mencoba menciptakan keseimbangan baru yang tak didasarkan kepada tujuan-tujuan eksploitatif dan manipulatif terhadap Barat.

Tetapi di sinilah, bagaimana pun tujuan Hassan Hanafi melakukan pembebasan diri Timur dari pengaruh pihak lain agar terdapat kesetaraan antara Barat dan Timur memang terasa utopia. Lantaran studi tentang Barat dengan cara pandang Timur (Islam) secara akademis dan metodologis yang sulit menafikan pengaruh intelektualitas Barat terhadap pembentukan kapasitas kepribadian dan intelektualitas Hanafi sendiri. Dengan kata lain, Timur kekurangan metod (dan rasionalitas) sehingga tidak mampu menggali tradisinya.

Sementara itu, beberapa di antara kita meminjam Nirwan Dewanto, sering merasa hidup dalam khazanah warisan moyang, “tradisi”, padahal kita hanya bertolak dari kesadaran, seringkali kesadaran semu, dan bukan dari pengetahuan tentangnya. Sebab bagaimana pun pengetahuan kita tentang “tradisi” seringkali hanya merupakan terusan dari apa yang sudah ditemukan oleh Barat. Setidak-tidaknya kita tak dapat menemukan (kembali) ”tradisi” tanpa jalan rintisan mereka.

Maka, pasca-kolonialisme, tanpa sadar Timur pun terus-menerus mengamalkan Orientalisme baru guna mengukuhkan “nasionalisme” atau sentimen “anti-Barat”-nya. Di sini, Orientalisme kerap diburu lewat pintu depan dan ada rasa bangga menyuruhnya pergi. Namun diam-diam ia dapat menyelinap masuk melalui pintu belakang, yang dalam Oksidentalisme-nya barangkali lebih familiar, tapi dengan daya rusak intelektual yang sama payahnya.

2.1.4. Kesimpulan

Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahawa kajian oksidentalisme adalah berlawanan  dari kajian oreantalisme, upaya untuk menanggulangi oreantalisme, Merebut kembali ego timur yang direbut oleh barat dan selama ini barat dipandang sangat mendominasi dalam kajian ketimuran khususnya kajian ke-Islaman. Bahkan, di era kolonial, orientalisme dianggap sebagai senjata untuk menundukan bangsa-bangsa timur. Hal inilah yang membangkitkan kekesalan Edward Said dengan menulis buku “orientalism” . Dia mengkritik bahawa kajian barat atas timur kurang lebih bertujuan politis ketimbang ilmiah.

Dalam pemikiran dunia timur, “karena trauma sejarah akibat kolonialisme”, ada suatu perasaan curiga terhadap kajian-kajian oreantalisme bahawa kajian yang mereka lakukan memiliki motif-motif terselindung, bahkan, terkesan mengerdilkan semua yang berbau timur, walaupun ada beberapa oreantalis yang objektif dalam mengkaji ketimuran. Adanya prasangka atau tuduhan klise dari dunia timur yang tidak mendasar, seperti : Kebudayaan barat yang dekaden, individualistik dan Amoral. Namun disisi lain dunia timur dibuat terpesona dengan kemajuan peradaban barat yang tiada henti serta anggapan timur bahawa mengadopsi kebudayaan barat adalah modenitas atau ‘life style’.

Dengan semangat oksidentalisme diharapkan dapat membantu atau menjembatani kebuntuan tersebut. Terpenting, motif di balik kajian oksidentalisme adalah untuk mempelajari akar kemajuan bangsa-bangsa barat, membuat pemilihan dan menerapkannya di dunia timur hingga timur keluar dari kemundurannya. Selain itu Oksidentalisme diharapkan mampu menghilangkan kecurigaan yang tidak mendasar terhadap barat yang terus mengendap difikiran orang timur. Dampak positif dan negatif yang ditimbulkan akibat oksidentalisme. Berbicara tentang akibat positif dan negatif  kajian oksidentalisme sama halnya dengan membicarakan peperangan antara kebaikan dan keburukan ertinya, sudah menjadi sunnatullah di dunia ini sesuatu yang dianggap sempurna akan nampak kekurangannya, dalam kajian oksidentalisme ada kebaikan yang boleh diambil dan ada juga keburukan yang muncul.

Sebenarnya, kesan positif dan negatif akibat oksidentalisme bergantung kepada peribadi oksidentalis itu sendiri. Seorang oksidentalis yang benar, ialah yang tidak terlalu terpengaruh dengan kemajuan peradaban barat dan lantas menerima apa saja yang yang diperkenalkan oleh barat, boleh mengambil dan meniru barat tetapi harus membuat perimbangan dengan landasan Islam dan iman. Hal ini karena jika tidak, akan menimbulkan semacam racun dalam masyarakat timur khususnya ummat Islam. Islam yang universal, mengajarkan liberalisme dalam berfikir, memfungsikan akal sebagai anugerah fitrah tetapi dibatasi oleh dua dasar utama iaitu Al-qur’an dan As-sunnah.

Dalam perkembangan yang lain, Dr Hasan Hanafi yakin orientalisme sama sahaja dengan imperialisme, seperti kepopularan imperalisme budaya yang disebut Barat melalui medianya dengan mempropagandakan Barat sebagai pusat kebudayaan kosmopolitan. Bahkan, orientalisme dijadikan sejujur mungkin untuk melancarkan penerusan kolonialisme Barat (Eropa) terhadap dunia Timur (Islam). Menurut beliau, oksidentalisme hanya ingin menuntut pembebasan diri dari cengkaman kolonialisme orientalis. Ego oksidentalisme adalah lebih bersih, objektif, dan neutral dibandingkan dengan ego orientalisme. Oksidentalisme sekadar menuntut keseimbangan dalam kebudayaan, kekuatan, yang selama ini memposisikan Barat sebagai pusat yang dominan. Melalui oksidentalisme, ia diharapkan mampu mengakhiri dan sekaligus meruntuhkan mitos Barat yang dianggap sebagai satu-satunya perwakilan (kekuatan) dunia (Azrin Muhammad 2007).

 

2.2 TEORI KEBERGANTUNGAN AMERIKA LATIN

2.2.1 Sejarah Dan Andaian Dasar Teori Kebergantungan

 

Menyingkap sejarah,    teori    kebergantungan    muncul    atas    ketidakmampuan    teori modenisasi membangkitkan ekonomi negara-negara terbelakang, terutama negara di bahagian  Amerika  Latin.  Secara  teoritik,  teori  modenisasi  melihat  bahawa  kemiskinan dan kemunduran yang terjadi di negara dunia ketiga terjadi kerana faktor dalaman di negara tersebut. Kerana faktor dalaman itulah kemudian negara dunia ketiga tidak mampu mencapai kemajuan dan tetap berada dalam kemunduran.

 

Paradigma  ini  yang  kemudian  ditentang  oleh  teori  kebergantungan.  Teori  ini berpendapat  bahawa  kemiskinan  dan  kemunduran  yang  terjadi  di  negara-negara dunia ketiga bukan disebabkan oleh faktor dalaman di negara tersebut, namun lebih banyak ditentukan oleh faktor luaran dari luar negara dunia ketiga itu. Faktor luaran yang paling menentukan kemunduran negara dunia ketiga adalah adanya campur tangan  dan  kuasa  negara  maju  pada  laju  pembangunan  di  negara  dunia  ketiga.

 

Dengan  adanya campur  tangan  tersebut,  maka  pembangunan  di  negara  dunia  ketiga  tidak berjalan  dan  berguna  untuk  menghilangkan  kemunduran  yang  sedang  terjadi, tetapi semakin membawa kesengsaraan dan kemunduran. Kemunduran di negara dunia ketiga ini disebabkan oleh ketergantungan yang dicipta oleh campur  tangan  negara  maju  kepada  negara  dunia  ketiga.  Bila  pembangunan  ingin berjaya,  maka  ketergantungan  ini  harus  diputus  dan  biarkan  hingga negara  dunia  ketiga dapat melakukan pembangunannya secara berdikari.

 

Salah  satu  pemikir  utama  yang  sampai  saat  ini  masih  mendapatkan  tempat dalam gugusan ilmu pengetahuan terkemuka ialah Karl Marx. Ketertarikan banyak orang  akan  pemikiran  Marx  terutama  dalam  masalah  ekonomi  dan  kelas  sosial menyebabkan  pemikirannya  relatif  diminati  dan  dikekalkan.  Kumpulan  intelektual yang merujukkan pendapatnya kepada Marx disebut dengan kaum Marxis.

 

Ada dua perkara utama dalam masalah pembangunan yang menjadi simbol kaum Marxis Klasik. Pertama, negara pinggiran yang sebelum kapitalis adalah kumpulan negara yang  tidak  dinamik  dengan  cara  produksi  Asia,  tidak  feudal  dan  dinamik  seperti tempat lahirnya kapitalisme, iaitu Eropah. Kedua, negara pinggiran akan maju ketika telah  disentuh  oleh  negara  pusat  yang  membawa  kapitalisme  ke  negara  pinggiran tersebut. Adaiannya, negara pinggiran adalah seorang putri cantik yang sedang tertidur, ia  akan  bangun  dan  mengembangkan  potensi  kecantikannya  setelah  disentuh  oleh putera raja yang   kacak.   Putera raja yang kacak   itulah   yang   disebut   dengan   negara   pusat   dengan kuasa  yang  dimilikinya,  iaitu  kapitalisme.  Pendapat  inilah  yang  kemudian dibantah oleh teori kebergantungan.

 

Bantahan  teori  kebergantungan  kepada  pendapat  kaum  Marxis  Klasik  ini  juga  ada dua  hal. Pertama,  negara  pinggiran  yang  pra-kapitalis  memiliki  dinamik  tersendiri yang  berbeza  dengan  dinamik  negara  kapitalis.  Bila  tidak  mendapat  sentuhan  daripada negara kapitalis yang telah maju, mereka akan bergerak dengan sendirinya mencapai kemajuan yang diinginkannya. Kedua, justru kerana dominasi, sentuhan dan campur tangan negara maju terhadap negara dunia ketiga, maka negara pra-kapitalis menjadi tidak  pernah  maju  kerana  tergantung  kepada  negara  maju  tersebut.  Ketergantungan tersebut  ada  dalam  format  “neo-kolonialisme”  yang  diterapkan  oleh  negara  maju kepada  negara  dunia  ketiga  tanpa  harus  menghapuskan  kedaulatan  negara  dunia ketiga. Negara pinggiran yang terkena akibat penjajahan akan mengalami dua   tahap   revolusi,   Marxis   Klasik   berpendapat   bahawa   revolusi borjuis  harus  lebih  dahulu  dilakukan  baru  kemudian  revolusi  proletar.  Sedangkan Neo-Marxis   berpendapat   bahawa   kalangan   borjuis   di   negara   terbelakang   pada asasnya  adalah  alat  atau  kepanjangan  tangan  dari  imperialis  di  negara  maju.  Maka revolusi  yang  mereka  lakukan  tidak  akan  membawa  perubahan  pada  negara  pinggiran, terlebih lagi teori   kebergantungan   yang   muncul   di   Amerika   Latin.

 

Pada   awal kelahirannya,   teori   ini   lebih   merupakan   jawaban   atas   kegagalan   program   yang dijalankan  oleh  ECLA  (United  Nation  Economic  Commission  for  Latin  Amerika) pada  masa  awal  tahun  1960-an.  Institusi tersebut  ditubuhkan  dengan  tujuan  mampu   menggerakkan   perekonomian   di   negara-negara   Amerika   Latin   dengan membawa percontohan teori modenisasi yang telah terbukti berjaya di Eropa.

Teori  kebergantungan  juga  lahir  atas  respon  ilmiah  terhadap  pendapat  kaum Marxis    Klasik    tentang    pembangunan    yang    dijalankan    di    negara    maju    dan berkembang.   Aliran   neomarxisme   yang   kemudian   menopang   keberadaan   teori kebergantungan ini. Tentang  imperialisme,  kaum  Marxis  Klasik  melihatnya  dari  sudut  pandang negara maju yang melakukannya sebagai bahagian daripada upaya manifestasi kapitalisme dewasa kini,  sedangkan  kalangan  neomarxis  melihatnya  dari  sudut  pandang  negara revolusi tersebut tidak akan mampu membebaskan kalangan proletar di negara  berkembang  dari  eksploitasi  kekuatan  alat-alat  produksi  kumpulan  borjuis  di negara tersebut dan kaum borjuis di negara maju.

 

Marxis  klasik  percaya  bahawa  jika  terjadi  revolusi  sosialis,  maka  hal  itu sebaiknya  dilakukan  oleh  kumpulan  proletar  industri  yang  ada  di  kota-kota  tempat berlangsungnya  industrialisasi.  Sedangkan  Neo-Marxis  berpendapat  bahawa  revolusi sosial  sebenarnya  kekuatan  potensialnya  terletak  pada  para  petani  di  kawasan kampung  dan rakyat yang duduk dikawasan pinggir bandar . Tokoh utama daripada teori kebergantungan adalah Theotonio Dos Santos dan Andre Gunder  Frank.  Theotonio  Dos  Santos  sendiri  mendefinisikan  bahawa  ketergantungan ialah hubungan  yang tidak seimbang antara negara maju dan negara miskin dalam  pembangunan  di  kedua  kumpulan  negara  tersebut.  Dia  menjelaskan  bahawa kemajuan  negara  dunia  ketiga  hanyalah  punca daripada  pengembangan ekonomi  negara  maju dengan  kapitalismenya.  Jika  terjadi  sesuatu  impak negatif  di  negara  maju,  maka  negara membangun  akan  mendapat  impak  negatifnya  pula.  Sedangkan  jika  hal  negatif terjadi di negara membangun, maka belum tentu negara maju akan menerima impak tersebut.  Sebuah   hubungan   yang   tidak   imbang berlaku.   Ertinya,  dari sisi positif dan negatif daripada   impak pembangunan    di    negara    maju    akan    dapat    membawa    impak    pada    negara membangun.

 

Dalam  perkembangannya,  teori  kebergantungan  terbahagi menjadi  dua,  iaitu  kebergantungan klasik  yang  diwakili  oleh  Andre  Gunder  Frank  dan  Theotonio  Dos  Santos,  dan Kebergantungan Baru yang diwakili oleh F.H. Cardoso.

2.2.2.   Pembangunan Menurut Theotonio Dos Santos

 

Ketergantungan  adalah  keadaan  dimana  kehidupan  ekonomi  negara  tertentu dipengaruhi oleh perluasan daripada ekonomi negara lain. Pendapat ini dikemukakan oleh Dos  Santos  dalam  memberikan penilaian terhadap  pendapat  kaum  Marxis  Klasik  yang  berpendapat bahawa  kapitalisasi  pada negara  maju  akan  dapat  membawa  kemajuan  pada  negara-negara sedang berkembang.

Menurut Dos Santos , Teori Kebergantungan bermaksud :

“……. an historical condition which shapes a certain structure of the world economy such that it favors some countries to the detriment of others and limits the development possibilities of the subordinate economics….. a situation in which the economy of a certain group of countries is conditioned by the development and expansion of another economy, to which their own is subjected “.

Hubungan  yang  terbina  antara  negara  maju  dan  negara  membangun adalah hubungan  yang  tidak  sihat  kerana  negara  maju  melakukan  eksploitasi  sumberdaya pada  negara  membangun  untuk  kepentingan  pembangunan  di  negaranya  sendiri. Eksploitasi  sumberdaya  tersebut  dilakukan  melalui  jaringan  industri  yang  ada di negara membangun namun atas pelaburan negara maju, sehingga keuntungan yang didapat  oleh  industri  tersebut  banyak  yang  ditarik  ke  negara  maju,  sedangkan beban   impak   industrialisasi   dilimpahkan   ke   negara   berkembang   yang   menjadi tempat industrialisasi.

 

Kemunduran   ekonomi   negara   Dunia   Ketiga   bukan   disebabkan   oleh tindakan  terpadu  mereka  ke  dalam tata  ekonomi  kapitalisme  di  negara  maju. Namun  disebabkan  kerana  tindakan  pengawasan  ketat  dan  monopoli  modal  asing, serta   penggunaan   teknologi   maju   pada   peringkat antarbangsa dan negara.   Pada gilirannya     hal     tersebut     menjadikan     negara     dunia     ketiga     menjadi mundur,  kesengsaraan,  dan  marginalisasi  sosial  dalam  had  wilayahnya sendiri.  Semakin  tergantung  satu  negara  dunia  ketiga  dengan  negara  maju,  maka kondisi    tersebut    akan    semakin    berpotensi    membawa    kemunduran    dan kesengsaraan pada negara dunia ketiga.

 

 

Selanjutnya,  Dos  Santos  mengemukakan  ada  tiga  ketergantungan  di  negara dunia  ketiga  sebagai  punca  daripada  perluasan modal  dan  pasar  yang  dilakukan  oleh negara-negara      maju      di      kumpulan      negara      berkembang.

Bentuk-bentuk ketergantungan tersebut adalah sebagai berikut :

 

  1. Ketergantungan Kolonial (Colonoal Dependence)

 

Terjadi ketergantungan politik kerana dominasi negara pusat terhadap negara pinggiran.  Penentuan  polisi  yang  dilakukan  oleh  pemerintahan  negara membangun  ditentukan  oleh  keinginan  negara  pusat.  Tidak  ada  legitimasi kedaulatan  yang  dimiliki  oleh  negara  pinggiran  ketika  bekerjasama  dengan negara pusat dalam usaha melakukan pembangunan. Walaupun secara tersurat dan tersirat, negara membangun tidak berada dalam naungan   kekuasaan   negara   maju,   namun   negara   maju   dapat   melakukan penekanan terhadap polisi  politik   dalam  negeri  pada negara  berkembang.  Kemampuan campur tangan tersebut terjadi kerana sangat berpengaruhnya pelabur negara maju dalam  upaya  melindungi  pelaburannya  di  negara  terbelakang.  Pelabur  dan birokrat  negara  maju  mampu  menentukan  polisi  dari  birokrat  negara membangun,  sehingga  polisi  yang  dikeluarkan  hanya  untuk  melindungi kepentingan pelaburan luar negeri di negara dunia ketiga.

 

  1. Ketergantungan Kewangan-Industri (Financial-Industrial Dependence)

 

Terjadi  penguasaan  kekuatan  finansial  negara  satelit  (pinggiran)  oleh  negara pusat   walaupun   secara   hukum dan politik   negara   satelit   ialah   negara   yang merdeka. Penguasaan kewangan ini ditentukan oleh pelaburan modal asing yang dimiliki  pemodal  negara  maju  di  negara  berkembang  dengan  modal  yang besarnya  melebihi  modal  pelabur  dalam negara,  sehingga  peredaran  modal  dapat ditentukan oleh orang-orang diluar negara pinggiran tersebut.

Lebih lanjut, arah industrialisasi juga ditentukan oleh pemodal asing, sehingga

tenaga  kerja  dalam  negara  tergantung  daripada  industrialisasi  tersebut.  Tenaga kerja  dalam  negeri  tidak  mampu  bersaingan  dengan  tenaga  ahli luar negara yang didatangkan oleh pemilik modal luar negeri. Ketimpangan ini juga   membawa   ketimpangan   upah   yang   diterima   oleh   pekerja   dalam negara, sehingga  upah  pekerja  tersebut  tidak  mampu  meningkatkan  kesejahteraan mereka. Tidak  hanya  itu,  pengguna  barangan  mewah  daripada  masyarakat  negara membangun  juga  semakin  meningkat  selari dengan  tetapnya  pendapatan  dan produktiviti yang dimiliki tenaga buruh tempatan. Perluasan pasaran yang dilakukan negara   maju   memaksa   penduduk   negara   berkembang   melakukan   mod  penggunaan   barang-barang   mewah   yang   berbeza   dengan   kondisi   sebelum terjadinya   industrialisasi,   padahal   gaji   atau   pendapatan   penduduk   negara membangun  jauh  berada  dibawah  pendapatan  penduduk  di  negara  maju.  Ini membawa   jenis   penggunaan  barang   mewah   yang   tinggi,   dengan   gaji   atau pendapatan yang rendah.

 

  1. Ketergantungan Teknologi Industri

 

Munculnya   syarikat   industri   di   negara   satelit   yang   didirikan   oleh usahawan  tempatan,  namun  teknologi industrinya masih  dikuasai  oleh  negara  pusat, yang  akhirnya  terjadi  monopoli  kelebihan  industri.  Industri  tempatan  di  negara pinggiran    akan    mengimport    teknologi   industri   yang   diperlukan   untuk menjalankan  putaran  dunia industri daripada  negara  pusat,  sehingga  masih  tetap terjadi   ketergantungan   dalam   hal   teknologi.   Ketergantungan   inilah   yang menjadikan negara membangun lambat dalam mencapai kemajuan.

 

Selain  itu,  Dos  Santos  juga  melihat  industrialisasi  yang  terjadi  di  negara berkembang   mengalami   beberapa   hambatan   yang   sulit   dihilangkan.   Hambatan- hambatan tersebut ialah sebagai berikut:

 

  1. Negara  pinggir  yang  melakukan  industrialisasi  memerlukan  valuta  asing untuk  mengimpor teknologi.
  2. Neraca perdagangan negara satelit mengalami defisit.
  3. Adanya     monopoli     teknologi     dari     negara     pusat  menyebabkan kenaikan biaya sewa hak paten.

 

Bentuk ketergantungan negara satelit terhadap negara pusat dapat dilihat dalam carta

di bawah ini :

 

 

 

Keterangan lain, Samir Amin menggambarkan model pembangunan di negara pusat dan negara pinggiran sebagai berikut  :

 

2.2.3. Pembangunan Menurut Andre Gunder Frank

 

Bagi   Frank,   teori   modenisasi   memiliki   kekurangan   kerana   ia   hanya memberikan   penjelasan   tentang   faktor   dalaman   sebagai   penyebab   utama   daripada kemunduran di negara dunia ketiga. Teori modenisasi mengesampingkan faktor luaran yang juga tidak kalah penting dalam punca kemunduran di negara dunia ketiga. Frank menyanggah bahawa tradisionalisme dan feudalisme yang selama  ini  dituding  sebagai  akar  penyebab  gagalnya  pembangunan  di  negara  dunia ketiga.

Teori    modenisasi    juga    mengesampingkan    konteks    sejarah    lahir    dan berkembangnya   negara   dunia   ketiga   dengan   sepenuhnya   menggunakan   sejarah negara  Eropah  sebagai  indikator  sejarah daripada  pembangunan.  Negara  barat  dan  negara dunia  ketiga  memiliki  sejarah    dan  perkembangan  yang  berbeza.  Negara  Barat tidak  pernah  merasakan  zaman kolonial  sebagaimana  yang  terjadi  pada negara  dunia ketiga.  Perbezaan  ini  membawa  impak  yang  berbeza  pada  pembangunan  yang dilakukan pada dua jenis negara tersebut.

 

Penjajahan  dalam  bentuk  apapun  telah  merubah  struktur  ekonomi-politik  di negara dunia ketiga kerana mereka menjadi negara yang pernah dijajah oleh negara maju.   Perubahan   struktur   ekonomi politik   inilah   yang   menuntut   hala   alternatif pembangunan  yang  sama  sekali  berbeza  dengan  pembangunan  yang  dilakukan  di negara    maju    yang    pernah    menjajah    negara    dunia    ketiga.    Perubahan    arah pembangunan   ini   menurut   Frank   sangat   penting   dilakukan   kerana   sebenarnya kemunduran  bukan  sesuatu  yang  alami,  melainkan  seperti  barang  ciptaan  dari panjangnya sejarah kolonial di negara-negara dunia ketiga.

 

Secara  agak radikal,  Frank  yang  pernah  bekerja  di Economic  Commission  in Latin  America berhujah  bahawa  dalam  bentuk  apapun  juga,  kapitalisme  telah menyebabkan   kemunduran   di   negara   dunia   ketiga,   terutama   secara   politik. Dibawah   pengaruh   pendapat   Presbich,   Frank   secara   tegas   menyatakan   bahawa kemunduran  di  negara  membangun  ialah  kerana  impak  pembangunan  yang terjadi di negara maju.

 

Salah  satu  bukti  dari  hujahan  ini  adalah  dengan  melihat  pembentukan  kota atau  negara  satelit  oleh  negara  maju  di  kawasan  dunia  ketiga.  Kota  atau  negara satelit  ini  pada  masa  kolonial  berfungsi  sebagai  wilayah  yang  memberikan kemudahan  proses pengambilan  kelebihan  ekonomi  dari  negara  satelit  ke  negara  maju.  Kota-kota  ini dipimpin  atau  diawasi  oleh  petugas  yang  memiliki  autoriti  penuh  daripada  negara  maju, sehingga   mampu   melakukan   penekanan   polisi   yang   sangat   luas   kepada birokrat di negara dunia ketiga.

 

Pada   teori   Frank,   ada   tiga   komponen   utama   dalam   pembangunan,   tiga komponen tersebut adalah:

1). Modal asing.

2). Pemerintah lokal di negara satelit.

3). Kaum borjuis di negara satelit.

 

Pembangunan  di  negara  satelit  hanya  terjadi  di  kalangan  tiga  komponen utama   ini,   tanpa   menyentuh   masyarakat   yang   menjadi   sasaran   pembangunan. Selanjutnya  Frank  mengungkap  karakter  perkembangan  kapitalisme  di  negara satelit sebagai berikut:

1)   Adanya ketergantungan kehidupan ekonomi di negara satelit.

2)   Adanya  kerjasama  antara  modal  asing  dengan  kelas  borjuis  di

negara satelit, iaitu para pejabat, tuan tanah dan pedagang.

3)  Adanya  ketimpangan  ekonomi  antara  kumpulan  kaya  dan

kumpulan miskin di negara satelit.

 

Konsep trickle  down  effect atau  tetesan  air  kebawah  tidak  berjalan  di  negara satelit  kerana  peredaran  kemampuan  modal  hanya  berputar  diantara  golongan  elit semata  tanpa  menyentuh  kelas  ploretar  yang  memerlukan  perubahan  ekonomi  ke hala   yang   lebih   maju.   Oleh  itu,   maka   Frank   berpendapat   bahawa kemunduran    hanya    akan    dapat    dihilangkan    dengan    melakukan    revolusi langsung  yang  melahirkan  sistem  sosialis,  bukan  revolusi  bertahap  seperti  yang diusulkan  oleh  kaum  Marxis  Klasik.  Hal  ini  dapat  diketahui  dari  pendapat  yang ditulisnya di buku selanjutnya berjudul Latin America, Reform or Revolution.

 

Pendapat  Frank  lebih  radikal  dari  pendapat  Dos  Santos  dalam  memandang ketergantungan  negara  satelit  atas  negara  pusat.  Dos  Santos  masih  melihat  sudut pandang positif  daripada   ketergantungan   negara   satelit   kepada   negara   pusat   kerana   dapat membawa kemajuan ekonomi di negara satelit. Ertinya ketergantungan tersebut tidak hanya  membawa  impak  negatif  pada  negara  satelit,  namun  juga  berpotensi  positif berupa  kemajuan  ekonomi.  Lain  dengan  Dos  Santos,  Frank  menyikapi  kapitalisasi negara  pusat  kepada  negara  pinggiran  adalah  sebuah  bentuk  imperialisasi  ekonomi yang  secara  pasti  membawa  impak  negatif  pada  negara  pinggiran  atau  negara satelit.

 

Sumbangan Frank di dalam teori ini adalah satu rantaian hubungan metropolissatelit yang digambarkan seperti berikut yang terkandung di dalam bukunya “Capitalism and Underdevelopment in Latin America”:  “The monopoly capitalist structure and the surplus expropriation/appropriation contradiction run through the entire Chilean economy, past and present.  Indeed, it is this exploitative relation which in chain like fashion extends the capitalist link between the capitalist world and national metropolises to the regional centres (part of whose surplus they appropriate) and from these to local centres and so on to large landholders or merchants who expropriate surplus from small peasants ot tenants, and sometimes even from these latter to landless labourers exploited by them in turn.  At each step along the way the relatively few capitalists above exercise monopoly power over the many below, expropriating some or all of their economic surplus, and to the extent that they are not expropriated in turn by the still fewer above, appropriating it for their own use.  Thus at each point, the international, national and local capitalist system generates economic development for the few and underdevelopment for the many.”

 

Menurut Frank rantaian hubungan metropolis satelit ini telah wujud sejak abad ke-16 dan perubahan hanya dari segi bentuk eksploitasi dan penguasaan terhadap negara satelit.  Ini dinamakan sebagai satu prinsip kesinambungan di dalam perubahan atau “continuity in change”.  Mengikut Frank, penyatuan negara-negara ke dalam sistem kapitalis dunia telah menyebabkan berlakunya pembangunan di beberapa kawasan dan juga berlaku pula kurangnya pembangunan di beberapa kawasan yang lain.  Hubungan metropolis satelit terdapat pada semua peringkat kapitalisme dunia iaitu, di antara negara dan di dalam sesebuah negara.

Teori Kebergantungan ini diwujudkan supaya pihak negara kaya terus-menerus mendapat faedah keatas sumber kekayaan negara miskin seperti bahan mentah, hasil bumi dan sebagainya. Pihak negara kaya sebagai metropolis dengan beberapa kelebihan yang ada dari segi teknologi dan kepakaran ditonjolkan sebagai menguasai ekonomi dan maju. Manakala negara miskin (satelit) hanyalah bertindak sebagai penyedia keperluan bahan mentah dan sumber alam yang ada untuk disalurkan kepada metropolis  untuk menghasilkan produk akhir ataupun barangan yang siap dan kemudiannya dijual kembali kepada negara satelit tersebut.

Proses eksploitasi bermula di dalam negara apabila metropolis tempatan mengambil lebihan yang dihasilkan oleh satelit tempatan.  Proses ini berterusan ke peringkat yang lebih tinggi dan dalam sistem itu lebihan ekonomi mengalir ke atas mengikut corak hierarki berangkai sehingga sampai ke peringkat metropolis dunia atau M seperti dalam rajah di bawah.  Oleh itu, ternyata bahawa sistem kapitalis dunia merangkumi keseluruhan ekonomi setiap negara yang terheret masuk ke dalam sistem itu.  Frank juga telah menolak anggapan ‘dualisme’ iaitu ekonomi yang mengandungi dua sektor yang terpisah.

 

Selain itu, Frank turut menyentuh mengenai kesan-kesan politik iaitu kelas memerintah di negara-negara yang mengalami underdevelop menempatkan diri mereka di dalam rantaian hubungan itu yang berlaku di luar bandar sehingga ke negara metropolis dan mereka mempunyai kepentingan untuk mengekalkan kedudukan tersebut. “This colonial and class structure establishes very well defined class interests for the dominant sector of the bourgeoisie.  Using government cabinets and other instruments of the states, the bourgeoisie produces a policy of underdevelopment in the economic, social and political life of the “nation” and the people of Latin America.”

 

M = Metropolis Dunia

M = metropolis

s = satelit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

s         s         s       s                                   s          s

 

Rajah : Model Metropolis – Satelit Frank

 

Frank menunjukkan dengan kekayaan fakta dan sejarah, tiada bahagian di Amerika Latin yang tidak disentuh oleh hubungan pasaran.  Persyarikatan ke dalam sistem dunia kapitalis membawa kepada pembangunan di dalam beberapa sektor dan “development of underdevelopment” di tempat lain.  “Development of underdevelopment” berlaku di dalam sistem dunia kapitalis yang dicirikan dengan struktur metropolis-satelit. Metropolis mengeksploitasi negara satelit membolehkan keuntungan hanya dinikmati oleh metropolis pula terus miskin dan disingkirkan daripada dana pelaburan supaya pertumbuhannya menjadi begitu perlahan.  Lebih penting, potensi satelit dikurangkan sehingga hanya menjadi negara yang bergantung yang mana telah membentuk satu kelas memerintah tempatan yang khusus dan mempunyai kepentingan untuk terus menjayakan agenda underdevelopment iaitu “lumpenbourgeoisie” yang menurut sahaja polisi-polisi underdevelopment atau dilabel oleh Frank sebagai “lumpendevelopment”.

2.2.4. Pembangunan Menurut F.H. Cardoso

 

Teori  Kebergantungan  Klasik  memakai  istilah  ketergantungan  digunakan  untuk asas secara   teoritik   yang   selalu   dapat   digunakan   untuk   menjelaskan   bentuk   dan   pola kemunduran  di  negara  dunia  ketiga  akibat  sentuhan  kapitalisme  oleh  negara maju.  Namun  pada  kebergantungan  baru,  istilah  ketergantungan  lebih  dipakai  sebagai sebuah metod untuk menganalisis kemunduran nyata yang sedang terjadi di negara dunia ketiga. Posisi ini disebut dengan metod historis struktural.

 

Berbeza   dengan   kebergantungan   klasik   yang   lebih   banyak   menuduh   faktor luaran  sebagai  punca kemunduran  di  negara  dunia  ketiga,  kebergantungan baru disamping membenarkan pendapat tersebut, juga memperhatikan faktor dalaman yang  dapat  mempertahankan  kemunduran  di  negara  dunia  ketiga.  Kebergantungan klasik   lebih   melihat   aspek   ekonomis   daripada   ketergantungan   negara   dunia   ketiga terhadap negara maju, namun kebergantungan baru lebih melihat aspek sosial-politik daripada ketergantungan tersebut.

 

Tidak  sebagaimana  Frank  dan  Dos  Santos  yang  memberikan  ilustrasi  bahawa ketergantungan  struktural  yang  dialami  negara  dunia  ketiga  terhadap  negara  maju tidak   akan   pernah   berakhir   tanpa   ada   pemutusan   hubungan   antara   keduanya, kebergantungan  baru  masih  melihat  adanya  kemungkinan  berakhirnya  ketergantungan tersebut.

 

Negara     dunia     ketiga     dalam     pandangan     Cardoso     masih     memiliki kemungkinan  untuk  melakukan  pembangunan  walaupun  dalam  keadaan  bergantung dengan  negara  maju.  Kemungkinan  untuk  melakukan  pembangunan  ini  merupakan peluang   yang   dapat   membawa   negara   dunia   ketiga   melakukan   perbaikan   dari struktur   sosial-politik   dan   ekonominya   walaupun   masih   berada   dalam   perlindungan berbayang-bayang   negara   maju.   Dalam   pengertian   lain,   hala ketergantungan   dan pembangunan akan berjalan sejajar dalam tumpuan masing-masing yang bersamaan.

 

Dalam kondisi seperti ini, masih ada sisi positif daripada dominasi ekonomi yang dilakukan  oleh  negara  maju  terhadap  negara  dunia  ketiga  dalam  hal  perubahan struktur  ekonomi  dan  fizik  di  negara  dunia  ketiga.  Disedari  dan  diakui  atau  tidak, perkembangan   pendidikan,   keahlian   tenaga   kerja   dan   munculnya   industri   yang mampu menyerap angkatan kerja di negara dunia ketiga adalah bahagian daripada pelaburan dan industrialisasi yang dibantu oleh kalangan pelabur negara maju. Tanpa sentuhan pelaburan  tersebut,  maka  mungkin  tidak  ada  perubahan  kemampuan  pendidikan  dan keterampilan  industri  dari  masyarakat  di  negara  dunia  ketiga.  Kebergantungan  baru masih melihat ada sisi positif daripada sentuhan kapitalisme yang terjadi di negara dunia ketiga, walaupun teori ini juga mengakui bahawa ketergantungan negara dunia ketiga terhadap  negara  maju  adalah  faktor  terpenting  dari  kemunduran  yang  terjadi  di negara dunia ketiga.

 

Namun  seiring  dengan  ketergantungan  tersebut,  pembangunan  yang  berjalan di negara dunia ketiga juga tetap akan berjalan, walaupun dengan proses yang lebih lambat   dari   pembangunan   yang   pernah   terjadi   di   negara   maju.   Berjalannya pembangunan  inilah  yang  kemudian  pada  saatnya  nanti  akan  mampu  memutuskan rantai  ketergantungan,  sehingga  negara  dunia  ketiga  dapat  menemukan  bentuknya  dan  ketergantungan tersebut telah terurai dan lepas sama sekali.

 

Beliau mewakili kumpulan pemikir yang mengelak untuk membentuk sebarang teori am pergantungan.  Beliau menganalisis pergantungan dengan mengambil kira perubahan yang telah berlaku dan perubahan semasa atau kontemporari yang berlaku dalam sistem kapitalis dunia untuk melihat pembangunan pada dunia ketiga.  Umpama perkembangan syarikat-syarikat pada 1950-an, 1960-an dan 1970-an selepas sistem penjajahan berakhir.  Fenomena tersebut telah mengubah hubungan antara pusat dengan pinggir dan hubungan antara negara pusat itu sendiri.

 

Pendekatan ini tidak menyalahkan faktor antarabangsa yang menyumbangkan kepada kemunduran dunia ketiga tetapi keadaan struktur dalam masyarakat negara itu sendiri.  Dalam memahami bagaimana proses penindasan berlaku di peringkat antarabangsa dan nasional, perlu difahami keadaan struktur sosioekonomi tempatan.  Oleh itu tumpuan diberi kepada tiga aspek iaitu ragam pengeluaran (mode of production), bentukan sosial (social formation) dan hubungan kelas (class relations).

 

Bagi Cardoso, dari sudut ekonomi, pergantungan adalah satu keadaan di mana proses pengumpulan dan pengembangan modal tidak dapat mencari komponen pentingnya di dalam sistem ekonomi itu sendiri.  Bila ini berlaku, sebuah negara itu terpaksa bergantung kepada pemilik asing dan golongan tertentu.  Gabungan faktor luaran dan dalaman ini boleh menjelaskan kepada kita tentang proses sosial, politik dan ekonomi masyarakat negara berkenaan.

2.2.5. Kritikan Terhadap Teori Kebergantungan

Pertentangan utama berkait dengan kebergantungan ialah pasaran dunia atau pasaran ekonomi kapitalis beroperasi secara sistematik bagi mengekang pembangunan dunia ketiga.  Oleh itu, bukti bahawa sebilangan  negara yang telah dieksploitasi tidak cukup untuk membuktikan teori ini.  Walaupun tidak dapat dinafikan dalam sesetengah kes, antara pakatan kapitalis asing dengan elit domestik menyumbang kepada ‘economy’s underdevelopment’, tuduhan bahawa hubungan yang sistematik oleh functional antara kapitalisme dan underdevelopment tidak dapat disokong.

 

Perlu diingat bahawa hanya satu pemboleh ubah digunakan dalam menerangkan tiga fenomena berbeza yang ditemui di dunia ketiga iaitu underdevelopment, marginalization dan dependent development.  Pemboleh ubah tersebut adalah fungsi-fungsi ekonomi antarabangsa.  Di sini dapat dilihat bahawa apa sahaja teori yang menggunakan satu pemboleh ubah bagi menerangkan tiga keadaan berbeza, ia adalah sesuatu yang boleh dipersoalkan.

 

Kritikan umum berpendapat  LDCs kekal sebagai pengeksport komoditi, dieksploitasi dan menyebabkan kurang pembangunan adalah tidak benar.  Pada hakikatnya, sebagai sebuah kumpulan, LDC’s telah berkembang pesat sejak akhir-akhir ini berbanding negara maju.

 

Bukti yang wujud menunjukkan bahawa integrasi ke dalam ekonomi dunia atau economic isolation tidak dapat menjamin pembangunan ekonomi.  Pengintegrasian akan menyebabkan negara terperangkap ke dalam pengkhususan eksport.  Pendapatan eksport yang meningkat daripada komoditi tertentu dan faedah eksport yang tinggi boleh menghalang kepelbagaian aktiviti ekonomi.  Overdependance dalam eksport dan harga yang berubah-ubah akan mewujudkan kelemahan yang boleh member impak negatif terhadap ekonomi.  Ini akan menyebabkan pembangunan ekonomi secara menyeluruh tersekat.

 

Economic isolation pula boleh menyebabkan pembahagian sumber yang tidak tepat dan juga inefficiency yang mengekang pembangunan jangka panjang sesebuah ekonomi. Perkara yang penting, untuk mencapai pembangunan ekonomi dan membebaskan negara daripada kebergantungan adalah kapasiti sesebuah ekonomi untuk berubah.  Ini merupakan tanggungjawab pemimpin politik sesebuah negara.

 

Laclau pernah mengemukakan kritikan yang tajam terhadap teori Frank.  Beliau menghujah bahawa definisi Frank tentang kapitalisme amat berbeza dengan definisi Marx kerana Frank menekankan pertukaran dan hubungan komersial dan bukannya proses-proses pengeluaran.  Laclau berpendapat bahawa penyertaan dalam ekonomi dunia belum merupakan sebab yang mencukupi untuk mendefinisikan sesuatu sebagai bersifat kapitalis.

 

Genovese pula berpendapat bahawa tesis Frank telah mengaburkan sifat pemerintahan kelas dan mengemukakan dua masalah yang tidak boleh diselesaikan.  Pertama, ketidakmungkinan menentukan proses yang diguna oleh golongan borjuis untuk mendapatkan kuasa negara di Sepanyol dan Portugal.  Kedua, ketidakmungkinan menerangkan tentang kedudukan seigneurial yang telah dicapai melalui persetujuan (yang diperoleh tanpa bantahan dalam satu proses ekonomi yang dibiayai oleh dan pada asasnya menguntungkan golongan borjuis).

 

Beberapa orang penulis lain pula telah menyatakan tentang kekurangan teori pergantungan untuk digunakan sebagai panduan bertindak yang praktis.  Hujah mereka yang utama ialah kurang pembangunan merupakan akibat kehilangan lebihan ekonomi disebabkan hubungan pertukaran.  Ini membawa kepada kesimpulan bahawa terputusnya hubungan antara negara – khususnya antara negara maju dengan negara yang kurang membangun.  Dalam bentuk begini hujahnya diterima oleh  kedua-dua para perancang dan sarjana kerana ia tidak memberi kerangka teoritis untuk peralihan kepada sosialisme.

 

2.2.6. Kesimpulan

Kajian tentang pembangunan ekonomi wujud apabila muncul negara-negara yang baru merdeka dari penjajah mula menumpukan perhatian untuk membangunkan negara mereka.  Usaha ini bukan sahaja dilakukan oleh yang berkenaan secara bersendirian tetapi dibantu oleh negara maju yang pernah menjadi penjajah atas alasan kemanusiaan dan untuk meneruskan persahabatan dan hubungan dagangan.  Fokus utama adalah kepada masalah kemiskinan dan cara mengatasinya.

 

Oleh kerana kebanyakan teori dikemukakan oleh ahli ekonomi dan sosiologi dari Amerika, cara penyelesaian adalah lebih cenderung kepada keadaan tradisi negara mereka.  Pertumbuhan dianggap sebagai cara utama untuk mengatasi masalah kemiskinan.  Andaian utama ialah pembangunan ekonomi yang berterusan tidak akan berlaku tanpa kewujudan dan pertumbuhan ekonomi.

 

Dari perbincangan ini jelas menunjukkan tidak semua teori pembangunan yang dikemukakan boleh digunakan di dunia ketiga.  Pandangan ahli ekonomi Neo-klasik mengenai peranan sistem pasaran bebas umpamanya masih boleh dipertikaikan.  Aspek kecekapan yang ditekan oleh teori ini adalah bercanggah dengan kriteria ekuiti, manakala situasi negara Dunia Ketiga semasa mereka memulakan proses pembangunan adalah berbeza dengan situasi negara maju.  Pasaran bebas dan persaingan sempurna tidak wujud di negara Dunia Ketiga.  Keseimbangan tidak akan dapat dicapai secara automatik, malah yang selalu berlaku ialah keadaan tidak seimbang.  Tangan yang ghaib atau ‘invisible hand’ sebenarnya bertindak bukan untuk menggalakkan kebajikan umum sebaliknya lebih memberi manfaat kepada mereka yang sudah kaya dan mengabaikan majoriti penduduk yang rata-ratanya miskin dan tinggal di negara Dunia Ketiga.  Kesimpulan yang dapat diambil dari teori kebergantungan ini ialah:

 

  1. Yang   menghadkan   pembangunan   bukan   ketiadaan   modal   di negara  dunia  ketiga,  namun  terjadi  kerana  sistem  pengagihan  kerja antarabangsa.    Ertinya    ada    faktor    luaran    yang    menghambat pembangunan  di  negara  dunia  ketiga,  iaitu  dominasi  dan  campur tangan negara maju kepada negara dunia ketiga.
  2. Sistem   pembahagian   kerja   antarabangsa   di antara   negara   pusat   dan pinggiran    menyebabkan    negara    pinggiran    terhambat    melakukan pembangunan   ekonominya.   Upah   pekerja   dalam negara- negara   dunia ketiga   berada   jauh   dibawah   upah   pekerja   asing   yang   bekerja   pada industri  yang  didirikan  oleh  pelabur  asing  di  negara  dunia  ketiga. Perbezaan   sistem   pengupahan   ini   diiringi   dengan   perluasan   pasar barang-barang   mewah   daripada   negara   maju   ke   negara   dunia   ketiga, sehingga antara pendapatan dan konsumsi penduduk negara dunia ketiga tidak berimbang.

3.  Terjadi  pengalihan  kelebihan  ekonomi  daripada  negara  pinggiran  ke  negara pusat,   dalam   erti   bahawa   negara   pinggiran   kehilangan   sumberdaya utama  dalam  membangun  negaranya.  Dengan  begitu  maka  kemajuan akibat  pembangunan  tidak  akan  dapat  dicapai  secara  maksimum  oleh negara pinggiran.

 

4. Untuk    mengatasinya    diperlukan    pemutusan    hubungan    dengan kapitalisme dan negara maju yang membawanya. Cara terbaik adalah melakukan   revolusi   politik   secara   langsung   yang   dilakukan   oleh kumpulan proletar (petani dan buruh desa) di negara dunia ketiga.

 

2.3.             TEORI SOSIAL DARIPADA ISLAM

2.3.1.           Latar Belakang dan Sejarah

 

Kemelut berfikir di kalangan umat Islam ternyata masih belum berakhir. Banyak media massa selalu sahaja mengejutkan umat dengan berbagai bentuk tulisan dan pola pemikiran yang sekular, meterialistik, pragmatik dan sebagainya yang membelakangkan nilai serta norma yang paling teras dalam   Melayu iaitu Islam. Persepsi Islam di kalangan segolongan cendikiawan bukan merupakan asas untuk menilai sesuatu; samada perkara atau gejala. Jika uniform anak-anak sekolah dibincangkan, maka yang menjadi asas penilaian adalah aspek ekonomi dan psikologinya sahaja. Soal pembangunan yang dibincangkan hanyalah  dilihat dari sudut teknologi dan pragmatiknya sahaja, tanpa melihat sudut agamanya. Islam bagi sesetengah pihak bagaikan bayang yang tidak punya kenyataan. Ia bukan suatu perspektif yang patut disorot.

Mengapakah pertimbangan Islam selalu dilupakan atau disingkirkan oleh elit muslim berkenaan. Sudah tentu persoalan ini perlu dicarikan jawapannya. Permasalahan inilah barangkali yang disebabkan oleh  agen-agen imprealis dari segolongan orientalis, journalis, akademis, zionis, pendia’yah kristian  dan kuncu-kuncunya.

Orientalisme atau dalam bahasa Arabnya disebut ” Al Istisyraq” adalah ilmu tentang Timur atau hal Ehwal Ketimuran, lebih jauh ia adalah kegiatan atau pengkajian berhubung dengan ehwal Ketimuran, sejarah, keyakinan penduduk di sebelah Timur, susun lapis penduduk, lokasi, persekitaran tabi’enya, bahasa, gaya pertuturan, watak dan syahsiyyah mereka. Kajian ini menyelidiki aliran pemikiran tradisi dalam pelbagi bentuk, untuk pelbagai tujuan. Dalam konteks yang berlainan ada pula pandangan yang mengatakan bahawa Orientalism sebagai sebuah disiplin ilmu yang mempunyai methodologi yang tersendiri.

Namun apa yang menjadi fokus perbincangan ini ialah bagaimana para orieantalis ini membuat tanggapan yang salah terhadap masyarakat dari sudut Islam. Kita akan cuba merungkai permasalahan ini dengan membawa beberapa tokoh Islam yang berwibawa dengan hujah-hujah mereka dalam membalas tohmahan para orieantalis.

1.                  Salah satu daripada buah fikiran para orieantalis terutamanya komunis menyatakan Islam itu satu agama yang tidak baik. Mereka selalu melontarkan pandangan bahawa Islam itu tidak sesuai untuk membangunkan masa depan dan tidak mampu membina masa depan.

Kenyataan ini begitu kasar dan para sarjana Islam di timur mengajurkan beberapa Persoalan, apakah kayu pengikur yang digunakan hingga berani mengeluarkan kenyataan yang sedemikian dan paeraturan manakah lagi di dunia ini yang boleh di[panggil sebagai peraturan yang baik. Menurut sarjana muslim, ukuran menentukan baik dan tidaknya sesuatu peraturan itu seharusnya ditinjau dari segi manfaat yang yang dapat dinikmati semua orang secara menyeluruh baik kedudukannya sebagai individu atau sebagai anggota masyarakat.

Data-data sejarah telah mencatatkan peraturan Islam itu dalam waktu yang cukup lama, telah memberi manfaat serta sesuai dilaksanakannya, dalam hal ini tidak ada yang mengingkarnya. Sesungguhnya setiap masyarakat yang melaksanakan peraturan Islam itu telah banyak mendapat manfaatnya bahkan mereka berjaya berada di tingkatan yang sempurna. Sebagai bukti bangsa Arab itu sendiri. Setelah mereka menuruti segala ajaran Islam lalu mereka benar-benar berubah menjadi bangsa yang sempurna. Dari mereka mengalirlah unsure-unsur yang hidup, kekuatan, kebaikan serta bermacam-macam penemuan barudari fikiran dan jiwa mereka yang asalnya mereka satu suku yang paling hina dengan sikap dan mengamalkan amalan yang keji. Mereka berubah menjadi sebaik-baik ummah yang menganjurkan kebaikan serta mencegah kejahatan, berlumba-lumba membuat kebajikan.

Kemudian unsur-unsur tersebut berpindah kepada bangsa-bangsa lain iaitu bangsa yang bukan Arab yang telah memeluk Islam mereka berubah menjadi maju dalam segala lapangan dan berhasil mencapai segala apa yang menjadi cita-cita mereka. Nah sekarang kita lihat betapa pandangan orieantalis tentang masyarakat Islam dan timur tidak tepat sama sekali. Seandainya peraturan Islam itu tidak bermanfaat, sudah tentu orang yang memeluk Islam tidak berubah menjadi menjadi maju dan berubah hidupnya.

Berkata Gust Lubun (seorang Kristian Eropah): Sesungguhnya kekuatan itu tidak pernah berperang dalam penyiaran Al Quran, kerana bangsa Arab biasa membiarkan bangsa  dikalahkannya bebas memilih memeluk agama masing-masing. Memang pada hakikatnya bahawa semua bangsa itu tidak pernah mengenal penakluk-penakluk yang bersifat belas kasihan serta murah hati seperti bangsa Arab Muslimin, Gustav Loobon: kemajuan bangsa Arab, hal.145. Keadan ini jauh berbeza dengan keadaan ketika penaklukan Soviet terhadap Hungary pada tahun 1956 dan serbuan mereka ke atas Chevslovakia pada tahun 1968. Dengan keadaan sebegitu tentulah peraturan Islam itu merupakan satu peraturan yang baik dan didalamnya terdapat unsur-unsur kebaikan.

2.         Kaum komunis berkata sesungguhnya Islam itu hanya baik untuk zaman dahulunya sahaja, dan pada zaman sekarang ia sudah tidak sesuai lagi. Para sarjan Islam sekali lagi membidas mereka dengan berkata sesungguhnya unsur-unsur kebaikan itu tetap ada dalam Islam dan tidak pernah berubah sama sekali. Jika kelihatan ada perubahan itu sebenarnya bukanlah Islam tetapi penganutnya, kerana meninggalkan peraturan Islam atau kerana kebodohannya terhadap peraturan Islam.

Islam benar-benar mengajak pengikutnya untuk bekerja dengan produktif dan memerangi kemalasan (menganggur) serta meminta-minta. Islam menjadikan unsure keadilan sebagai dasar bagi segala masalah kehidupan. Asas musyawarah sebagai sumber hokum sehingga demikian tidak ada lagi kedurhakaan atau eksploitasi seseorang terhadap prang ramai.

Islam menjadikan seseorang individu itu bertanggungjawab terhadap masyarakatnya sendiri, sebaliknya masyarakatnya itu sendiri berfungsi sebagai pelindung serta  memberi jaminan kepada hak milik individu. “Sesungguhnya bangsa barat dan para orieantalisnya mula melupai nilai-nilai moral dalam peradaban yang dating dari Islam itu”. Oleh kerana itu mereka mula meluncur ke bawah, diantara tanda-tandanya ialah tersebar luasnya kerichuan, kejemuan keingkaran serta kecenderungan mereka gemarkan benda yang mengkhayalkan, kegilaan seks dengan mengabaikan tatacaranya dan sebagainya.

3.         Islam adalah agama yang tidak demokratik.

Para orieantalis membuat andaian bahawa Islam adalah agama yang tidak demokratik, menindas kaum wanita, menggalakkan poligami dan sebagainya. Anak-anak menurut mereka adalah bebas menentukan arah tuju dan agama. Para wanita pula sepatutnya bebas keluar bekerja dan bersosial menurut kacamata mereka. Islam dikatakan sebagai menggalakkan permusuhan dan suka memuttuskan persaudaraan.

Sebaliknya apa yang dipegang oleh para orieantalis ini adalah tidak benar sama sekali. Menurut H.O.S Tjokroaminoto 1924 dalam bukunya Islam dan Sosialisme jelas menunjukkan perkara sebaliknya berlaku. Dalam buku tersebut menyatakan Islam adalah agama yang bersifat demokratik dan menetapkan berbagai hokum yang bersifat demokratik. Islam menentukan persaudaraan yang harus dilaksanakan di antara orang-orang Islam baik yang berkulit merah, putih, kuning atau hitam, yang kaya atau yang miskin. Persaudaraan Islam dapat menghilangkan permusuhan yang berlaku sejak turun temurun lagi. Orang asing dijadikan sahabat karib. Lebih kuat daripada saudara perhubungan asal sedarah. Persaudaraan Islam sampai pada tingkat yang paling tinggi, terbukti sepeninggalan nabi Muhammad pucuk pimpinan diberi kepada salah seorang sahabatnya, bukan daripada saudara mara. Islam membunuh perbezaan kerana kasta, sehinggan budak suruhan telah dilantik sebagai komander tentera Islam ada yang daripadanya berketurunan tinggi darjatnya.

4.         Islam adalah agama yang jumud dan tidak mementingkan kebendaan.

Pendapat para orieantalis atau golongan sosialis kepada Islam ini adalah tidak benar sama sekali. Sebenarnya apa yang bertentangan dengan Islam hanyalah tentang maksud materialisma yang telah disalah ertikan oleh mereka.Berdasarkan penulisan Proffesor Dr. syed Hussein Al Atas dalam bukunya yang bertajuk Islam dan Sosialisme menyatakan hanya mereka sahaja (sosialisme) yang mementingkan keperluan-keperluan hidup manusia dan alat produksinya.

Islam juga memetingkan kebendaan. Menurut Syed Mohd Asykari menyatakan Saidina Ali ibn Abu Talib (602-661 T.M) dalam nasihatnya kepada kumail Ibn ziyad mengatakan bahawa ‘kemiskinan itu maut yang paling dahsyat’. Islam mendesak supaya kita hidup dengan cukup dengan benda-benda yang diperlukan. Dalam suratnya pada Malik al-Ashtar, yang beliau lantik sebagai gabenor Mesir, Saidian Ali mendesak agar rasuah dan penindasan dihapuskan. Demikian juga kemiskinan mesti dihapuskan dengan berkata “kamu mesti menentukan bahagian mereka dari harta perbendaharaan kerajaan. Selain wang ini, kamu juga mesti menyediakan bahagiandaripada hasil bumi, dari gudang gandum kerajaan di kota-kota, dimana gandum dikumpilkan dari lading-ladang gandum kerajaan”.

5.        Menganggap Islam sebagai agama seks dan syahwat.

Para orientalis termasuk komunis menganggap Islam itu agama seks dan syahwat, kerana Islam membenarkan bagi pengikut-pengikutnya berkahwin sampai empat orang, sedangkan nabi Muhamad sendiri mempunyai sehingga sembilan orang isteri.

Mereka menyerang Islam dari segi ini sejak bermulanya propaganda komunis, dan puncak serangan ialah apa yang ditulis dalam majalah Al Ilmuwad din yang menyerang dengan teratur pada edisi Disember 1968 M, sebagai berikut “ sesungguhnya kitab suci iaitu Al Quran telah membangkitkan rasa untuk memuaskan nafsu sex tanpa perhitungan yang matang (begitulah anggapan mereka) Basyuni Ahmad, Abu Bakar bin umar ba’Awadl, 1980.

Jika diperhalusi secara betul, soal seks dikalangan bangsa Arab sebelum kedatangan Islam adalah kucar-kacir, kebiasaan mereka menyalurkan naluri seksnya sangat dipengaruhi oleh kehendak memburu kelazatan yang melangit. Mereka biasanya berkahwin lebih daripada seorang isteri. Misalnya abdul Mutalib bin Hasyim mempunyai enam orang isteri, Abu sufyan enam orang juga dan Qes bin Harits lapan orang isteri. Seorang ayah tidak mampu menghalang perlaksanaan perkahwinan anaknya, perkara biasa bagi seorang suami mengirimkan isterinya kepada lelaki lain bagi mendapatkan zuriat keturunan daripadanya, disamping perzinaan bermaharajalela dan homoseks  menjadi kebiasaan.

Sebaliknya komunis juga sama seperti golongan Arab Jahiliah, membolehkan hubungan seks dengan semua perempuan, dibenarkan setiap orang komunis melepaskan nafsu syahwatnya bebas tanpa sebarang kekangan, dibenarkan setiap orang komunis berzina setiap perempuan sekalipun telah beristeri dan menjadi kebiasaan membiarkan isterinya, anak perempuanya atau saudara perempuannya berzina dengan mana-mana lelaki walaupun mereka telah mempunyai suami kerana dalam komunis pada dasarnya setiap wanita adalah halal.

6.         Kononnya masyarakat timur dalam kegelapan  (kurun ke-16) dan para orieantalis cuba membantu untuk mengeluarkan masyarakat timur dari kegelapan dengan perluasan pengaruh gereja. Kajian Ketimuran yang bercambah di Eropah di abad -abad pertengahan adalah didorong oleh pertentangan agama dan suasana perang Salib pada ketika itu.Pengaruh dan semangat untuk mengembangkan Kristian pada ketika itu jelas dalam nota rasmi pembentukan kursi pengajian Bahasa Arab di Universiti Cambrigde, England, yang bertarikh 9 Mei 1636 masihi oleh pengasasnya. Nota tersebut antara lain menyebutkan: “Kita sedar bahawa dengan usaha ini kita bukan sahaja bertujuan untuk mendekati kesusteraan yang baik untuk mendedahkan sebahagian besar ilmu pengetahuan yang ada kepada cahaya dan tidak membiarkannya terkatup dalam bahasa yang ingin kita pelajari sahaja akan tetapi kita juga sebenarnya bertujuan untuk mengajukan khidmat bakti kepada pemerintah dan negara memlalui perdagangan kita dengan negara-negara Timur, selain untuk mengagungkan tuhan melalui perluasan batasan gereja dari seruan kepada agama Kristian di kalangan orang-orang yang masih hidup dalam kegelapan.

Sedangkan pada masa itu, terutama Negara Islam berada dalam keadaan yang jauh lebih baik daripada mereka. Masyarakat Islam pada masa itu, telah lama mengalami ledakan ilmu dan tamadun yang tinggi. Pada kurun ke sembilan hingga ke sebelas masehi merupakan zaman keemasan Islam. Ramai tokoh tokoh dalam pelbagai bidang dilahirkan seperti Al Biruni, Al Khawarizmi, Ibn Haitam dan lain-lain yang mana mereka ini adalah pakar dalam bidangnya yang tersendiri. Sedangkan kaum barat masih berada dalam kegelapan dan hanya mula berlaku kebagkitan pada kurun ke empat belas dan kemuncaknya pada kurun ke tujuhbelas dan lapan belas dengan revolusi industri.

7. Memejamkan mata terhadap fakta kebenaran.

Adakalanya para ilmuan terkenal dan penulis ternama dalam konteks pengajian yang serius menulis kajian perbandingan mengenai bangsa dan agama sengaja memicingkan mata mengenai pandangan Islam dalam konteks tertentu.Mereka hanya menulis sekadar sekelumit dan itupun aspek yang tidak penting untuk menunjukkan betapa Islam sebagai agama yang tersisih dan tidak perlu disorot. Umpamanya S.K Northobs dalam kajiannya yang bertajuk ‘Kajian Mencari Persefahaman Dunia’ yang mengandungi 496 halaman hanya menyentuh mengenai Arab dan orang Islam sekitar 12 halaman sahaja. Walhal mereka merupakan kumpulan ketujuh  yang terbesar menjadi penghuni dunia ini. Begitu juga Betrand Rusell dalam bukunya Sejarah Falsafah Arab.

8. Sistem undang-undang Barat menggantikan sistem perundangan tempatan.

Elite pemerintah di negara-negara umat Islam pasca penjajahan umumnya meneruskan sistem perundangan Barat. Mereka masih “beriman” bahawa undang-undang Islam tidak dapat memberikan keadilan berbanding undang-undang penjajah Inggeris atau Perancis. Lebih jauh mereka beri’tikad bahawa undang-undang Islam jika diamalkan akan membawa kepada kezaliman. Mereka yakin akidah mereka seperti ini adalah mewakili akidah yang betul. Manakala akidah yang sebenarnya adalah sesat.

9.  Pandangan terhadap etika.

Para orientalis terutamanya Marx mengingkari norma etika yang dikembangkan oleh kaum bangsawan yang didokong oleh golongan gereja yang disandarkan pada wahyu dari langit, termasuk juga agama Islam juga diingkari nya. Pada pandangan mereka, golongan beragama ini mempertahankan hak-haknya menggunakan nama tuhan sebagai senjata.

Pokok pemikiran Marx mengingkari segala bentuk norma etika yang berprinsip pada gambaran-gambaran kekuatan di atas kekuatan mausia, ada sesuatu yang tidak lahir dari akibat adanya class struggle dengan mementingkan golongan bangsawan berikut keperluan-keperluannya.

Sebenarnya masyarakat Islam sejati tidak mengenal kelas. Ia adalah wadah bagi orang-orang yang hilang haknya, yang tersisa lapar, lapar, tertindasa dan terdiskriminasi. Pesan Islam ialah pesan kerakyatan sebagaimana amanat Quran,”Tuhan telah menjanjikan kepada orang tertindas bahawa mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin umat manusia; tuhan telah menjanjikan kepada orang-orang tertindas bahawa mereka akan mewarisi bumi dari orang-orang berkuasa.

Islam menentut terciptanya sebuah masyarakat yang adil, sebuah gerakan kebangkitan yang menentang penindasan, pemerasan dan diskriminasi sehingga mereka mendapat masyarakat yang adil, masyarakat yang membebaskan dirinya dari tirai ketidakadilan dan pembohongan. Kerana itu diskriminasi manusia atas dasarras, kelas, darah, kekayaan, kekuatan dan lain-lain tidak boleh dibiarkan. Kecuali jika di alam semesta ini penuh dengan pepecahan, pertentangan dan perbezaan mesti dinilai sebagai kelalaian. Islam sebenar nya mendasari pada sebuah kerangka ideologis yang memahami Islam sebagai kekuatan untuk melawan segala bentuk halangan penindasan danmenuju persamaan hak tanpa kelas.

Dalam sudut ekonomi menampilkan bahawa Islam menuntut bagi memenuhi segala keperluan secara merata. Mereka ini berpegang kepada pemerintahan Ali (khalifah Islam yang ke empat) di mana gaji diberi kepada pejabat-pejabat dan pekerja secara meluas, gaji yang sama kepada semua golongan masyarakat, baik tentera, ahli politik mahupun pekerja, persamaan harus wujudnya sepenuhnya dalam sector ekonomi. Disinilah terletak nya keadilan Islam, bukan semata-mata prinsip agama, tetapi semangat yang mengatur seluruh aspek Islam dan dianggap sebagai tujuan utama pengutusan nabi.

“Islam adalah agama yang realiti dan mencintai alam, kekuatan, keindahan, kesihatan, kemakmuran, kemajuan dan memenuhi segala keperluan manusia… kaum mislimin menaggung segala beban tanggungjawab social, dan bahkan visi antarabangsa, untuk memerangi kejahatan dan berusaha merebut kemenangan demi umat manusia, kebebasan, keadilan dan kebaikan. …Islam adalah agama yang segar yang melahirkan gerakan, mencipta pergerakan, menghadirkan kesedaran diri dan menguatkan kepekaan politik dan tanggungjawab social yang berkait dengan diri sendiri…suatu kekuatan yang meningkatkan pemikiran dan mendorong kaum tertindasagar memberontak dan menghadirkan diri di medan peperangan dengan semangat keimanan, harapan dan keberanian.”

Islam adalah suatu agama yang lebih dinamik berbanding dengan mana-mana system di dunia ini. Terminologi Islam memperlihatkan tujuan yang progresif. Secara kritis ia membezakan sumber-sumber terminology yang dihadapkan dengan barat. Pihak barat menyatakan politik dari bahasa Yunani iaitu ‘polis’ bererti kota menunjukkan suatu yang static, tetapi menurut Islam adalah siasah bererti ‘menjinakkan seekor kuda yang liar’ suatu proses yang mengandungi makna perjuangan yang kuat untuk memunculkan kesempurnaan yang inheren. Istilah bahasa Arab Ummah dan imam keduanya berasal dari perkataan “amm” yang bererti keputusan untuk pergi: sebab itu dikatakan imam adalah model yang membawa manusia ke arah baru.

2.3.2.  Tokoh- tokoh Islam

2.3.2.1. Imam Al-Ghazzali

Al-Ghazzali merupakan seorang tokoh pemikir terkenal yang banyak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pemikiran umat Islam. Ketokohan dan sumbangannya dalam  bidang akademik telah dibincang, dianalisis dan diseminarkan oleh tokoh-tokoh ilmuwan Islam dan barat. Al-Ghazzali telah menjadi perintis kepada usaha mempertaut disiplin ilmu Islam dengan disiplin logik yang menjadi manhaj kepada Falsafah Greek. Penolakan beliau terhadap beberapa aspek falsafah  yang dilihatnya tidak serasi dengan ajaran akidah Islam tidak menghalangnya untuk menggerakkan usaha murni yang lahir daripada tanggapan positif beliau terhadap disiplin Logik yang merupakan manhaj warisan peninggalan Aristotle dan sesetengah buah fikiran kumpulan Stoik. Usaha beliau telah diserlahkan menerusi penghasilan kitab al-Mustafa min ’Ilm al-Usul ( Saripati Perundangan Islam). Huraian yang dikemukakan adalah secara bebas dan natural  serta tidak memihak kepada sesuatu aliran atau teori yang tertentu sahaja.. Beliau sekadar menjelaskan prinsip-prinsip pegangan ahli falsafah tanpa membezakan asas-asas pemikiran yang betul dan sebaliknya.

Al-Ghazzali  kemudian mengorak langkah seterusnya  menjelaskan asas-asas pemikiran falsafah yang ditafsirkannya sebagai bercanggah dengan ajaran Islam menerusi kitabnya Tahafut al-Falasifah. Dalam bahagian terakhir Maqasid, beliau menyatakan  dengan jelas bahawa sesiapa ingin mengetahui tentang apa-apa yang batil dan yang benar tentang ilmu Falsafah hendaklah menelaah Tahafut yang di dalamnya terdapat penjelasan terperinci tentang dua puluh perkara iaitu tiga perkara melibatkan soal kekufuran  dan tujuh belas perkara melibatkan bid’ah.  Al-Ghazzali terpanggil untuk menyumbangkan buah fikiran melalui Tahafut kerana terdapat kecenderungan sekelompok kecil pemikir bebas di kalangan umat Islam yang terdorong menolak beberapa ibadat Islam, memperkecil syiar-Nya seperti kewajipan menunaikan solat dan keperluan menjauhkan diri daripada melakukan perkara yang bercanggah dengan agama. Mereka berpendapat ajaran syariat tidak membantu pencapaian intelektual . Ini kerana golongan pemikir tersebut terlalu mengagumi tokoh-tokoh besar seperti Socrates, Plato, Aristotle dan lain-lain lagi yang berjaya mencapai tahap intelektual yang tinggi sebagaimana yang diserlahkan oleh mereka.

Tokoh-tokoh tersebut telah berjaya berjaya mengemukakan asas pemikiran yang mantap dan teliti dalam bidang-bidang seperti Geometri, Logik, Kosmologi, Ketuhanan dan sebagainya walaupun mereka tidak mengamalkan , bahkan mengingkari ajaran syariat  dan menganggap semua syiar agama  sekadar sebagai upacara ritual semata-mata. Pada hal, menurut Al-Ghazzali, jikalau orang melihat dengan lebih dekat kepada setiap orang terkemuka sama ada dahulu atau pada zamannya, mereka akan menganut dua asas kepercayaan keagamaan iaitu kepercayaan tentang eksistensi ( kewujudan) Tuhan dan realiti kewujudan Hari Kiamat.

Al-Ghazzali telah menegakkan prinsip –prinsip agama berdasarkan hujah akal dan melihat persoalan falsafah dari kaca matanya sebagai ahli kalam yang bertanggungjawab memelihara kesucian akidah Islam daripada digugat oleh fikrah yang bertentangan dengannya berasaskan ijtihad dan tafsirannya yang tersendiri. Beliau telah memberi sumbangan besar dalam bidang Logik, khususnya dalam mengetengahkan asas pemikiran logik yang dianggapnya tidak bercanggah dengan Islam.Beliau telah berjaya menjelaskan kaedah-kaedah Logik yang berkisar kepada perbahasan al-hadd dan al-burhan dengan cara yang terperinci menurut pendekatannya sendiri yang agak berbeza dengan tokoh Logik sebelumnya.

Menurut Kurzman , Liberalisme dan modenisme Islam menolak autoriti agama. Pendekatan yang digunakan oleh relativisme iaitu dengan mengatakan bahawa kebenaran adalah relatif dan tidak boleh didakwa oleh mana-mana pihak. Penolakan terhadap autoriti agama ini dianggap penting agar kebebasan berpendapat atau ijtihad dapat dilakukan kerana hanya dengan cara liberalisasi Islam akan berhasil. Atas dasar inilah maka Islam Liberal banyak merujuk kepada karya-karya Orientalis-Kristian kerana bagi mereka pada orientalis merupakan autoriti yang lebih kritis serta dapat mengemukakan pendekatan yang lebih rasional dan berlainan. Golongan Islam Liberal melihat bahawa autoriti agama  hanya akan memberi kesan negatif atau religious authoritarianism (autoritarianisme keagamaan) . Menurut mereka, golongan ulama akan memonopoli kebenaran dan menghukum pandangan selain daripada pandangan mereka sebagai tidak Islami, sesat dan sebagainya.

Kekeliruan ini sebenarnya timbul akibat salah faham yang disengajakan. Satu fakta yang jelas ialah, wujudnya autoriti ilmu ini tidak mensyariatkan wujudnya hirarki dalam Islam kerana Islam tidak sama sekali meletakkan ulama sebagai wakil Tuhan atau pemegang kuasa menggantikan Tuhan sebagaimana yang berlaku dalam tradisi Nasrani dan pemerintahan gereja di Zaman Kegelapan ( Dark Age). Dalam Islam , kebenaran ijtihad ulama tidak mutlak.Oleh itu, pandangan ulama tidak semestinya benar dan hanya boleh diterima sekiranya terbukti sesuai dengan kehendak syariah dan dipersetujui kebenarannya. Dalam tradisi keilmuan Islam kita mengenal konsep yang sangat penting iaitu konsep qawl al-jumhur ( pandangan majoriti) dan ijma ( kesepakatan  para sarjana Muslim).

2.3.2.2. Al Zuhri

Al-Zuhri memberi sumbangan yang besar dalam pengajian sejarah yang berkisar dalam lingkungan teori sejarah dan berkenaan sejarah awal Islam serta berusaha terhadap perkembangan keilmuan itu dengan menulis dan mencatat Hadith-hadith sejarah sehingga dapat dimanfaatkan oleh generasi kemudian. Al-Zuhri telah berjaya mengemukakan al-sirah dalam bentuk yang terang dan jelas. Rangka kerja di dalam al-sirah atau al-maghazi dimulakan dengan catatan-catatan berhubung dengan kehidupan Rasulullah s.a.w iaitu sebelum zaman kerasulannya.Beliau telah membuka ruangan untuk bercakap tentang urutan keturunan Baginda, diikuti dengan beberapa tanda berkenaan  permulaan kenabian, permulaan turunnya al-wahyu , fatrah al-risalah yang meliputi peristiwa-peristiwa penting pada zaman Makkah, al-hijrah, peperangan, kedutaan dan rombongan.Kemudiannya barulah beliau menulis berkenaan Rasulullah s.a.w jatuh sakit dan kewafatan baginda.

Al-Zuhri dalam penulisannya telah memberi perhatian secara umum kepada peristiwa-peristiwa sejarah , dikemukakan secara tersusun dan bersambungan. Selain itu disertakan juga tarikh berlakunya peristiwa-peristiwa yang dimaksudkan seperti tarikh berlakunya hijrah, peperangan Badar, Uhud, Khandak dan beberapa peperangan yang tercetus antara  Rasulullah dengan Bani Sulaym, Qainuqa, Bani al-Nadir, pembukaan Mekah, tarikh ketibaan rombongan Kindah dan kewafatan Rasulullah s.a.w. Tindakan yang dibuat oleh al-Zuhri dapat menolong menguatkan rangka berhubung dengan al-sirah. Beliau  juga memaparkan maklumat-maklumat yang berlaku tanpa membuat tambahan-tambahan baru serta tidak membesarkan peristiwa-peristiwa dari sepatutnya. Bukan seperti penulis yang suka menokok dan menambah serta membesar-besarkan sesuatu cerita supaya menjadi sedap dan menarik untuk didengar. Pada umumnya maklumat yang dibawa oleh al-Zuhri berupa ambilan  daripada hadith-hadith , dengan cara pindahan dari rawi ke rawi lain, sehingga urutan rawi itu sampai kepada orang yang melihat sendiri perkara yang diceritakan ataupun didengar dari orang yang dapat dipercayai serta hidup pada zaman peristiwa irtu berlaku.

2.3.2.3. Ibn al-Farid

Ibn al-Farid telah mengemukakan  satu disiplin pembentukan diri dari sudut kerohanian yang kemas dan integral, yang dianggap oleh pengkaji ilmu tasawwuf sebagai satu sumbangan yang tidak terkira nilainya, khususnya untuk mereka yang mengikuti jalan sufi tersebut. Disiplin pembentukan ini merupakan dan peninggalan Ibn al-Farid bukan hanya untuk golongan sufiyyah sahaja tetapi juga merupakan bekalan untuk umat Islam seluruhnya.Disiplin Ibn al-Farid dapat dilihat dari beberapa dimensi yang diletakkan di bawah al-Uzlah kerana beberapa aspek pendisiplinan diri Ibn al-Farid mempunyai hubung kait dengan al-Uzlah. Oleh itu, kita dapati pengunaan beberapa program pendisiplinan ini bercampur baur antara satu dengan yang lain. Program pendisiplinan diri Ibn al-Farid yang dapat dikesani ada dua jenis. Pertama, pendisiplinan mengikut gaya dan cara yang tersendiri (syakhsi) atau dengan kata lain bahawa Ibn al- Farid  pada peringkat pertama beliau bergantung sepenuhnya kepada diri sendiri, ini mungkin didasarkan kepada ilmu pengetahuannya. Kedua, beliau laksanakan program ini berdasarkan arahan seorang syaikh, dan syaikh yang dimaksudkan di sini ialah Syaikh Hasan al-Baqqal.

2.3.2.4. Syaikh Muhammad Abd al-Wahab

Shaykh Muhammad Abd al-Wahab telah menggerakkan satu gagasan pembaharuan yang berusaha memperbaiki umat Islam yang telah rosak supaya kembali kepada Islam yang sebenarnya. Gerakan ini telah berhasil , setelah menempuh pelbagai rintangan dan halangan sehingga dapat menubuhkan sebuah negara Islam di Arab Saudi dan berjaya menghidupkan semangat kesedaran di kalangan umat Islam seluruhnya. Kejayaan Abd Wahab menarik Amir Muhammad bin Saud untuk menyokong perjuangannya adalah satu contoh yang baik dan boleh diteladani oleh setiap gerakan dakwah masa kini. Apa yang perlu disedari gerakan tersebut mestilah tegas, istiqamah dan iltizam dengan prinsip. Tidak mengabaikan sama sekali prinsip bersumberkan al-Quran dan al-Sunnah semata-mata kerana mahukan kekuasaan atau sokongan pihak yang berkuasa , kerana sikap dan langkah ini akan menjadikan gerakan tersebut sebagai alat pihak yang berkuasa. Cara ini bertentangan dengan tuntutan al-Quran dan bertentangan dengan apa yang menjadi dakwah Muhammad Abd al Wahab yang menuntut umat kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah.

Pengaruh Muhammad Abd al-Wahab telah menjalar luas ke seluruh dunia Islam. Beliau telah berjaya meniup angin kesedaran di kalangan umat Islam, membangunkan mereka daripada kelalaian dan membangkitkan mereka kepada menghayati Islam yang syumul dan berjihad bagi menegakkan dan mengembalikan kedudukan Islam dan umatnya. Dengan demikian dapatlah beliau disenaraikan sebagai seorang Mujaddid Islam.

2.3.2.5. Muhammad Abduh

Muhammad Abduh telah mengemukakan idea memerdekakan fikiran , membebaskan diri daripada belenggu keluarga dan kaum kerabat, kerana selama seseorang itu dibelenggu selagi itulah akalnya akan buta dan jumud. Ketika dunia Islam sedang bertelagah mengenai keharusan mempelajari falsafah, Muhammad Abduh telah mengemukakan idea kebebasan  berfikir tersebut dan mempertemukan antara prinsip fikiran dengan ajaran agama. Selepas itu, serangan terhadap falsafah tidak begitu berkesan lagi. Alasan yang dibawanya ialah Islam pada dasarnya tidak menghalang kebebasan berfikir. Ketegasan beliau dalam berhujah ini menunjukkan satu keberanian , sedangkan falsafah sebelum ini tidak lebih daripada sampah. Muhammad Abduh telah menolak fahaman sempit  sesetengah ulama Islam yang menolak  keseluruhan falsafah kerana alasan-alasan yang dihubungkan dengan agama. Mereka seolah-olah ingin menghentikan  dunia yang selalu bergerak ini daripada maju ke hadapan kerana mereka tidak dapat menerima fikiran-fikiran baru yang berlainan.

Muhammad Abduh telah membawa pengertian baru bahawa tujuan falsafah adalah sama dengan tujuan agama kerana kedua-duanya mahu mewujudkan kebahagiaan melalui kepercayaan yang benar dan perbuatan baik. Muhammad Abduh dikenali sebagai tokoh Islam yang telah menggabungkan kebaikan dari Barat dengan kesempurnaan Islam. Beliau tidak cepat menolak sesuatu dari Barat dan tidak pula cepat menerimanya, sebaliknya beliau menerima Barat dengan membuat beberapa pengubahsuaian  selaras dengan keherndak Islam. Minat Muhammad Abduh di dalam  bidang pendidikan telah melahirkan satu teori pendidikan yang dihormati. Sedangkan sebelum ini sistem  pendidikan umat Islam jauh ketinggalan berbanding dengan sistem pendidikan yang berkembang di Eropah. Beliau menyedari hakikat bahawa dunia Islam tidak sepatutnya memalingkan muka daripada kemajuan sains dan teknologi Eropah yang telah menguasai dunia.

2.3.2.6. Iqbal

Iqbal adalah seorang penyair  dan failasuf. Ia disebut sebagai intelektual “ sistematik” dan intelektual “ enthusiationist”. Yang dimaksudkan dengan intelektual sistematik ialah golongan intelektual yang merangka sistem-sistem fikiran atau falsafah daripada maklumat yang terdapat dalam ilmu pengetahuan. Termasuk dalam golongan ini ialah failasuf-failasuf , ahli-ahli ilmu masyarakat dan lain-lain seumpamanya. Sementara yang dimaksudkan dengan intelektual enthusiationist pula ialah golongan intelektual yang banyak mendapat ilham untuk mencipta hasil-hasil seni. Termasuk dalam golongan ini ialah penyair-penyair, pelukis-pelukis dan sarjana-sarjana ilmu kemanusiaan. Dalam peribadi Iqbal kedua-dua pemakaian istilah ini berlaku.

”Diri” bagi Iqbal adalah pusat segala kegiatan dan tindakan, punca keperibadian dan sumber kemegahan. Manusia seharusnya berusaha sedaya upaya memperbaiki diri mereka agar dapat menjadi seorang yang benar-benar sempurna. Menurut Iqbal, yang baik dan mulia sekali ialah bukan ” meniadakan: tetapi ”mewujudkan” diri. Orang yang berbuat seperti ini bagi Iqbal ialah orang yang akan memperolehi keperibadian dan kesempurnaan. Menurut Iqbal lagi, jiwa ialah kepunyaan perseorangan dan jiwa ialah khudi yang terbaik kerana seseorang itu menjadi suatu objek yang serba cukup. Menurut Iqbal lagi hidup ini ada tujuan. Tuhan tidak menjadikan hidup manusia ini sia-sia. Hidup mesti mengandungi kehendak, kemahuan dan iradat. Tanpa ini manusia tidak akan dapat hidup dalam dunia yang penuh persaingan ini. Sains dan teknologi adalah alat untuk hidup. Untuk hidup, menurut Iqbal, mesti ada cita-cita mulia dan tinggi dan cita-cita atau ideal itu hendaklah dimanifestasikan. Dengan itu sahaja hidup ini akan ada manfaatnya dan tidak sia-sia.

2.3.2.7. Ibn Khaldun

Ibn Khaldun bukan sahaja seorang ahli falsafah tetapi juga pengasas ilmu kemasyarakatan dan sumbangannya amat besar dalam bidang berkenaan sehingga hari ini. Beliau disifatkan sebagai sarjana agung penamat arus kebangkitan ilmu dalam Islam semasa zamannya. Ibn Khaldun cenderung dalam melakukan kajian tentang masyarakat dan beliau telah meletakkan kaedah-kaedah ilmu ini sebagai asas awal dalam penulisan sejarah masakini. Beliau merangkumkan pemikirannya tentang kemasyarakatan dalam bukunya iaitu : Al-Muqaddimah. Selain dari itu Ibn Khaldun juga telah berjaya membangunkan teori-teori pendidikan dalam karyanya yang sama. Penyelidikan ini dikhususkan pembahasannya kepada konsep pendidikan Islam dan elemen-elemen kemasyarakatan berdasarkan pemikiran Ibn Khaldun. Justeru, penyelidikan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan Islam menurut pemikiran Ibn Khaldun yang sesuai untuk diterapkan dalam masyarakat sekarang, di samping tidak mengetepikan elemen-elemen kemasyarakatan yang utama berdasarkan pemikiran beliau. Perhatian akan diberikan kepada aspek-aspek kemasyarakatan seperti : aspek sejarah, budaya, persekitaran, dan tamadun.

 

2.3.3. Kesimpulan

Dalam konteks menjelaskan ciri-ciri tamadun, kebanyakan pengkaji Barat menekankan aspek kebendaan sebagai ukuran sama ada sesebuah masyarakat itu bertamadun atau tidak.  Antara ciri-ciri yang dianggap sebagai asas  kepada wujudnya tamadun ialah terdapatnya kehidupan kota, senibina berupa tugu-tugu peringatan dan suatu sistem rekod pandang lihat berasaskan nota bertulis. Sesetengah pengkaji pula menekankan peri pentingnya tulisan  dalam kebangkitan tamadun tertentu atau dengan kata lain tamadun tidak boleh wujud tanpa suatu sistem tulisan. Ada juga pengkaji lain yang beranggapan bahawa suatu kebudayaan itu meningkat ke paras tamadun apabila ia mempunyai bandar-bandar yang menunjukkan penumpuan sejumlah besar penduduk , bangunan-bangunan peringatan seperti gereja atau istana dan tulisan. Keterangan tersebut jelas menunjukkan bahawa pengkaji barat membataskan ciri-ciri tamadun itu dalam aspek kemajuan atau kejayaan yang dicapai oleh sesebuah masyarakat  atau sesuatu bangsa dalam aspek-aspek pembangunan material.

Penulis sarjana Islam ketika itu membincangkan pengertian terutamanya yang berkaitan dengan tamadun Islam tidak membataskan ciri-ciri atau sifat-sifat tamadun itu dalam aspek pembangunan atau kemajuan material semata-mata, sebaliknya mereka merangkumkan aspek kerohanian  dan moral sebagai salah satu ciri penting  bagi sesuatu tamadun. Malahan menurut mereka , Islam itu sendiri merupakan tamadun. Sebenarnya , perubahan dan kemajuan yang telah dicetuskan oleh Islam dalam masyarakat Arab selepas pengutusan Nabi Muhammad s.a.w berbanding dengan keadaan dan suasana yang wujud dalam masyakarat jahiliyah, maka tidak dapat disangkal bahawa perubahan dan pembaharuan yang dibawa oleh Islam merupakan suatu tamadun yang tidak ada tolok bandingnya.

Dalam menentukan kedudukan agama dalam tamadun, pandangan sekular mengatakan agama adalah sebahagian daripada kebudayaan. Dengan kata lain . dengan budi dan daya manusia mencipta agamanya. Kebudayaan sentiasa mengalami perubahan, mengembang dan merosot. Oleh itu, mengikut konsep ini , agama turut mengalami perubahan yang mengakibatkan agama dicorakkan oleh pembaharuan. Pandangan ini tidak selaras dengan Islam, yang menegaskan bahawa Din Islam (agama Islam) adalah mencakupi seluruh sudut kehidupan manusia sama ada keagamaan atau keduniaan.Din Islam adalah kurniaan Allah. Melalui wahyu sahaja manusia diajar tentang aqidah yang benar, cara melakukan ibadah yang khusus dan prinsip-prinsip atau mu’amalat, dan dengan akal yang dikurnia oleh Allah manusia membina tamadun, berpandukan dan selaras  dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh wahyu.

Konsep kemajuan menurut Barat adalah berdasarkan kepada jumlah keuntungan atau pembaharuan yang dicipta dan seumpamanya. Islam juga mengambil kira perkara-perkara ini, tetapi Islam mengambil kira apakah pembaharuan itu, bagaimana ia dicapai dan apakah matlamatnya. Sebagai contoh, virus komputer adalah satu penemuan dan pembaharuan di dalam dunia sains, tetapi Islam tidak mengiktirafnya sebagai pembaharuan atau tamadun. Islam juga menyanjungi kemajuan nuklear, tetapi tidak membenarkan ia digunakan untuk memusnahkan manusia. Oleh itu, kayu ukur yang sebenarnya ialah sejauh manakah sesuatu kemajuan itu selaras dengan etika yang sebenar, kebenaran yang mutlak, yang ditentukan oleh Pencipta.

Dunia barat menitikberatkan aspek kebendaan dan mengetepikan aspek kerohanian.Islam menekankan kedua-dua aspek ini. Dengan perkataan lain, pembangunan Islam bersifat komprehensif dan multi dimensional . Islam mengutamakan aspek kerohanian tanpa mengabaikan aspek kebendaan. Pembangunan kebendaan dalam Islam adalah semata-mata sebagai alat untuk menyempurnakan pembangunan kerohanian. Misalnya kekayaan ekonomi digunakan untuk mendirikan pusat-pusat pendidikan. Pembangunan kerohanian akan menjamin pembangunan kebendaan, sebaliknya pembangunan kebendaan belum tentu menjamin pembangunan kerohanian.

Menurut Ismail Faruqi, fahaman sosialisme (Marxisme) berasal daripada falsafah Yunani Plato yang menganggap bahawa Tuhan menjelma dirinya di alam kebendaan dan manusia ialah bayangan Tuhan atau serpihan Tuhan. Manusia (Tuhan dalam bentuk insan) tidak tunduk kepada sebarang kuasa melainkan menurut kebetulan atau nasib. Fahaman ini adalah bertentangan dengan ajaran Islam kerana menurut Islam manusia ialah makhluk yang dijadikan oleh Allah s.w.t . Pendapat yang diutarakan oleh Islam itu adalah selaras dengan logik akal. Manusia tunduk kepada kuasa Allah daripada secara semulajadinya, dan apa yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan pengetahuan Allah s.w.t dan dengan izinNya. Menurut fahaman Marxisme sesuatu yang tidak dapat dikesan oleh pancaindera yang lima dianggap tidak wujud. Dari segi ilmiahnya , pendapat ini tidak benar kerana cara kita berfikir , fahaman atau cita-cita yang lahir daripada otak kita adalah satu kebenaran yang ada pada manusia, sungguhpun tidak dapat dikesan oleh pancaindera.

 

 

 

 

3.0    RUMUSAN

Secara umumnya, apa yang dibincang dan dihuraikan dalam penulisan ini bukanlah menyatakan kesemua aspek dan perkara berhubung teori sosial di luar Barat.  Namun begitu, apa yang termampu disajikan dijelaskan dalam tulisan ini hanyalah sedikit sejarah latarbelakang mengenai idea yang berlawanan daripada orientalisme iaitu oksidentalisme yang menguraikan sejarah hubungan non-Eropah dengan Eropah, menumbangkan keagungan Eropah dengan menjadikannya sebagai objek yang dikaji, dan menghapuskan perasaan rendah diri non-Eropah (Timur) dengan menjadikannya sebagai subjek pengkaji. Dengan kata lain, oksidentalisme menghilangkan rasa tidak percaya diri atau inferiority complex di hadapan Barat dalam soal kebudayaan, bahasa, ilmu pengetahuan, teori, mazhab, dan pendapat, dan selanjutnya menimbulkan rasa tinggi diri (megah pada diri sendiri) atau superiority complex .

Hasilnya, dapat dilihat munculnya tokoh-tokoh dari luar Barat yang berusaha dan membuat kajian seterusnya mampu melahirkan teori-teori sosial di luar Barat. Walaupupun, tidak semua tokoh yang diketengahkan dalam tulisan ini, ia sudah memadai dan cukup menunjukkan kepada kita bahawa sememangnya kita juga mampu menghasilkan ilmu baru melalui kajian terhadap sesuatu perkara atau isu secara kritis dan analitikal. Berbeza dengan ilmu kolonial yang dicanang oleh Barat, mereka bukan sekadar mengkaji dan menerbitkan ilmu baru, tetapi muslihat terselindung ialah mereke memperkecilkan potensi anak watan dan mencipta sesuatu ilmu pada kaca mata mereka sendiri dengan hasrat mengagungkan bangsa mereka dan mewujudkan rendah diri dalam kalangan negara-negara jajahannya.

Justeru, penulisan ini akan membuka mata kita tentang hakikat sebenar yang berlaku terhadap negara-negara jajahan barat di seluruh dunia yang menganggap negara-negara di luar Barat perlu ditamadunkan oleh mereka. Hakikatnya, kita tidak menolak atau menafikan sumbangan ilmu yang telah diberikan oleh mereka kepada kita, tetapi kita sebenarnya perlu bangkit dan meyakini potensi kita yang bukan berasal dari Barat juga mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan mereka. Malah, hasil teori yang dihasilkan di luar Barat ini turut digunapakai diperingkat dunia sebagai rujukan dan panduan dalam arena keilmuan.

RUJUKAN

Andrea Xia (2 September 2007). Orientalisme vs Oksidentalisme

http://cispos.blogspot.com/2007/09/orientalisme-vs-oksidentalisme.html

 

Azrin Muhammad (25 Oktober 2007). Hasan Hanafi Idea Islam Kiri

http://www.ummahonline.com/?p=596

 

Basyuni Ahmad, Abu Bakar bin Umar ba’ Awadl. 1980. Islam di Persimpangan

Jalan.Surabaya. Pt.Bina Ilmu.

 

Budiman,Arif, 2000, Teori Pembangunan Dunia ketiga, (Jakarta: Grammedia Pustaka

Utama.

Ben Anderson. 1983. Imagined Communities, Verso London. Disadur-ulang dari Takashi. op cit. p 39-40.

 

Cristobal Kay,1989, Latin American Theories of Development and

Underdevelopment. London; Routledge Publication.

 

Edward Said, Orientalism: Western Conceptions of the Orient, London, Penguin, 1991, pp.2–3.

 

H.O.S Tjokroaminoto.1924. Islam dan Sosialisme. Jakarta. Penerbit Bulan-Bintang.

 

Herisuwanto (18 Februari 2009). Sejarah Oksidentalisme

http://dutabengkalis.blogspot.com/2009/02/istilah-oksidentalisme-dipopulerkan.html

 

Khalif Muamar. 2006. Atas Nama Kebenaran : Tanggapan Kritis terhadap Wacana

Islam Liberal.  Pengantar  Dato’ Dr. Siddiq Fadzil. Selangor: Akademi Kajian

Ketamadunan.

 

Mohamad Kamil Hj. Ab. Majid. 1990. Tokoh-Tokoh Pemikir Islam. Jilid Satu.

Petaling Jaya: Budaya Ilmu Sdn. Bhd.

 

Mohamad Taha. 1995. Pengenalan Tamadun Islam. Dalam Islam, Al-Quran dan

Ideologi Masa Kini .(peny) Sulaiman Nordin. Kuala Lumpur. Dewan Bahasa

dan Pustaka.

 

Mohd. Fauzi Hamat.  (2005). Ketokohan Al-Ghazzali dalam Bidang Logik. Kuala

Lumpur: Universiti Malaya.

M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Moden. Gadjah Mada University Press. Khususnya bab ke-3.

 

Mansour  Fakih,2002, Runtuhnya  Teori  Pembangunan  Dan  Globalisasi,

Yogyakarta :  Pustaka  Pelajar.

 

Nor Aini & Ab. Razak,2000, Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi, Bangi.

Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.

Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia, Balai Pustaka. p 77.

 

Rahimah Abdul Aziz, 2001, Pengantar Sosiologi Pembangunan, Kuala Lumpur,

Dewan Bahasa dan Pustaka.

 

Samir Amin, dalam Magnus Blomstrom & Bjorn Hettne,1984, Development Theory

in Transition, The Dependency Debat and Beyond: Third World Responses, London: Zed Books .

Sukarno. 1983. Indonesia Menggugat, Inti Idayu Press. P. 19.

Sartono Kartodirdjo. 1967 . ‘Kolonialisme dan Nasionalisme di Indonesia Abad ix’. dalam Lembaran Sejarah No. 1. UGM. Yogyakarta. Desember. p 5.

Sukarno. 1995. Mencapai Indonesia Merdeka. Tjita Agung. P 10. Dikutip ulang dari karya Cahyo Budi Utomo, Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia: Dari Kebangkitan hingga Kemerdekaan. IKIP Semarang Press. p 3.

Slamet Mulyono. 1968. Nasionalisme Sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia I. Balai Pustaka. p 99.

Sartono Kartodirdjo. 1984. Respons-respons pada Penjajahan Belanda di Jawa: Mitos dan Kenyataan. Prisma edisi 11 LP3ES. Untuk lebih jauh, lihat The Baron Sakender Story: Mythical Aspects of Javanese Historiography. Makalah disampaikan pada the Dutch-Indonesian Historians Conference. Ujungpandang, Juni 1978.

Sunlie Thomas Alexander (8 Disember 2008) OKSIDENTALISME: Kajian Balik    Terhadap Barat dalam Studi Islam http://peziarahfana.blogspot.com/

 

Syed Hussein Al Alatas.1977.Islam dan Sosialisma.Pulau Pinang. Seruan Masa.

Syed Mohd Askari Jefrey.1967.Najhul Balaqha.Poona. Publication Committee.

 

Talal Asad, Genealogies of Religion: Disciplines and Reasons of Power in Christianity and Islam, London, Johns Hopkins University Press, 1993, p. 1.

Takashi Shiraishi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Pustaka Utama Grafiti. p 39.

 

Theotonio Dos Santos, “The Structure of Dependence” dalam American Economic

 

 

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s